Keluarga kami sederhana, kalau tidak bisa dibilang miskin. Oleh karena itu, saya dan kedua adik saya terbiasa menggemblengi diri kami agar tidak terlalu menyusahkan orang tua. Usai Sekolah Menengah Atas, kami bertiga mempunyai impian sama: kuliah gratis.

Dari impian bersama itu, saya paling beruntung karena bisa langsung mendapatkannya di tahun yang sama dengan tahun kelulusan SMA. Adik saya yang pertama, Andiz, harus meneruskan kuliahnya setahun di UNDIP sebelum akhirnya lulus di percobaan kedua. Adik yang terkecil, Galuh, meskipun juga mendapatkannya di tahun kelulusan SMA, harus berpindah perguruan tinggi karena lebih ingin mengikuti jejak kedua kakaknya.

Maka, pada akhirnya, jadilah tiga bersaudara ini menempuh kuliah di tempat yang sama: Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Sekolah kedinasan yang gratis. Sebuah kesamaan perkara yang selalu bikin tersenyum bagaimanapun kami mengingatnya. Salah satunya karena kami pernah bersekolah di tempat yang sama di periode yang sama. Pada kurun waktu 2013-2015, saya menempuh program Diploma IV, Andiz DIII Khusus, dan Galuh DIII regular.

Sejak itu, keluarga kami, mau tak mau, dicap sebagai keluarga Kementerian Keuangan. Andiz masuk dan bekerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Galuh di Direktorat Jenderal Perbendaharaan Negara, dan saya di Direktorat Jenderal Pajak.

Saya masuk Direktorat Jenderal Pajak saat usia masih belum genap 21 tahun dan ditempatkan di KPP Pratama Blora. Saat itu, saya masih seorang bocah yang gagu dengan dunia perkantoran, rutinitas, juga segala hal-hal yang memusingkan. Belum lagi saya harus berjibaku dengan lengang dan sepinya Blora. Banyak hal yang harus saya urai di kusutnya isi kepala. Tetapi, Ibu selalu mengingatkan kalau semangat saya jangan luruh, pun pedal juga tetap harus dikayuh. Apa boleh bikin. Kesemua itu harus saya rekam karena sebagai anak pertama, saya ketiban sampur ikut membantu keluarga karena ayah telah pensiun dan adik-adik masih bersekolah.

Tak ayal, saya jadi mengakrabi lema “perjuangan”. Hidup yang tadinya memang tidak pernah berada di titik puas pun kian menjadi. Saya terantuk dan terbentuk. Acapkali, dunia juga turut menyajikan titik-titik yang mencegah saya cepat untuk berpuas diri. Krisis, kemudian, menjadi makanan yang acapkali saya telan. Dan meloncat ke sana ke mari adalah pilihan yang selalu jatuh dalam genggaman.

Dari kesunyian Blora, saya belajar bagaimana caranya membaca buku, menulis, juga menghibur diri meskipun tidak ada satu orang pun yang bisa diajak bicara. Saya belajar bagaimana cara terbaik untuk menambah ilmu adalah terus-menerus menjadi bodoh. Juga bagaimana cara untuk menjadi tegar di tengah badai perubahan organisasi yang riuh.

Modal itulah yang mencukupkan waktu saya selama tiga tahun di Blora. Saya lalu memutuskan untuk bersekolah lagi: menuntaskan dahaga kesarjanaan yang tampak musykil pada beberapa tahun terdahulu. Saya mendapatkan beasiswa Diploma IV yang melenggangkan jalan untuk kembali ke pelukan rumah kedua yang hangat: Kampus STAN Bintaro.

Di sana, saya menikmati periode menjadi mahasiswa cum ASN yang membuat saya mengenal banyak orang. Belum lagi kegiatan saya sebagai bagian inti Badan Eksekutif Mahasiswa. Saya pun mengenal adik-adik yang rentang usianya bisa terpaut lebih dari 10 tahun, hingga kakak-kakak dengan rentang usia yang lebih jauh. Belum lagi teman sebaya yang tidak pernah bersua ketika DIII dulu. Selarung masa-masa indah yang akhirnya harus berakhir ketika panggung kelulusan saya naiki.

Jalan nasib kemudian membawa saya ke Direktorat P2Humas, tempat saya mendapatkan banyak pelajaran. Tempat di mana kesenangan dan kesedihan saya rasakan sekaligus. Dari kesenangan menggagas media sosial bersama Farchan Noor Rahman hingga melewati satu momen terburuk dalam hidup. Pengalaman yang lalu mengajari dan mengajarkan bahwa manusia hanya bisa berbual dengan kehendak, namun Tuhan yang tetap memberikan dinding dan kita harus siap berimprovisasi karenanya.

Maka, jika pada akhirnya peta jalan yang membentang pun harus berganti arah, tidak ada apapun yang bisa kita lakukan selain mengikuti ke mana alurnya dan terus-menerus mencoba percaya, bahwa semua akan baik-baik saja pada akhirnya.

Saya menutup perjalanan karir di Direktorat Jenderal Pajak dengan banyak pelajaran berharga. Di titik terendah saya dalam hidup, saya belajar bahwa sebanyak apapun teman, mereka yang terbaik adalah yang datang dalam kondisimu yang terburuk. Mereka yang paling setia adalah yang menggandengmu ketika kamu terus-terusan rubuh. Dan arti keluarga pun meluas. Tidak hanya mereka yang sedarah dan sedaging, tetapi juga pelukan-pelukan erat yang membuatmu semakin tangguh.

Terima kasih atas 10 tahunnya yang berharga kepada semua atasan dan rekan yang pernah bekerja sama: Kak Ani, Pak Yoga, Bu Pudi, dkk. Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas segalanya. Semoga jalan-jalan yang kita tempuh masih bisa bersinggungan kelak. Karena kerja (belum) selesai. (Belum) apa-apa.

Keluarga kami sederhana, kalau tidak bisa dibilang miskin. Tetapi, itulah yang membuat saya sangat menyayangi kedua orang tua saya, juga adik-adik saya, Galuh Wicaksana dan Anandiz Wirawan, dengan teramat sangat. Orang-orang utama yang membuat keputusan ini, pada akhirnya, tak berat untuk saya tanggung.

Ucapan khusus saya haturkan kepada mereka yang menangguhkan saya ketika tumbang. Yang tetap percaya walaupun tubuh mulai renta dan hati mulai gamang: Paruhum Aurora, Ferry Irwandi, Ramadhani Ardiansyah, Marina Purnama Ayu, M Fajar Ramadhan, Iwan Yanuar Supardi, Tifara Ashari, Fauziah Mahabbatussalma, Abby Pangeran Aziz, Niczen Henry Lolowang, Monika Yulando Putri, Mayang Dwi Astrini, Annisa Deni Istina, Yudi Dwiprasanto, Rizmy Otlani Novastria, Farchan Noor Rahman, Krisna Erlangga, Prastyan E. Rindawan, Hanip Nurjati, Afrizal Ghifari, Netadea Aprina, Nanang Priadi, Agung Utomo, Riza Almanfaluthi, M Bestari, Aisha Alsakina, Ludovicus Agwin, Agmelia Rifky Dianita, Dwikarti Suri Ani, Alya Haniifah Shahnaz, Sarah Syafira, Delfiana Primashinta, Ade Rizki Wulandari, dan Devri Radistya.

 

5 Replies to “(Belum) Selesai”

  1. Apapun itu, jalan mana yang kamu tempuh, semoga selalu ada cahaya berkawan, hingga dikuatkan mencapai tujuan

Leave a Reply

Your email address will not be published.