Saat Lee Chong Wei mendadak mundur dari Kejuaraan Dunia 2018 di Nanjing lalu karena masalah pernapasan, saya sudah menduga ada yang tidak beres. Lee Chong Wei, lupakan usianya yang sudah menginjak 35 tahun itu, adalah salah satu orang yang sangat rapi menjaga pola makan dan olahraga. Dia tak bisa dikalahkan cedera, apalagi kena sakit. Tubuhnya terlalu fit bagi atlit seusianya yang, bahkan ketika masih aktif bermain, rutin menjungkalkan para peringkat 10 dunia.

Benar saja, beberapa saat kemudian, kisah menyedihkan yang sebenarnya, baru bermula. Lee Chong Wei divonis menderita gejala awal kanker hidung. Petaka yang menyambar jejak karirnya di siang bolong.

Ia pertama mendengar dirinya terdiagnosis kanker hidung saat hendak berangkat latihan. Istrinya, Mew Choo, yang tiba-tiba datang memeluknya seraya menangis, dan mengabarkan berita sedih itu.

“Tas badminton saya langsung mencelos dari tangan. Saya duduk terkulai, mulai menangis. Ibu saya kemudian datang dan menguarkan tangis serupa,” ujarnya, menggambarkan bagaimana perihnya jejak karir yang ia tenun perlahan luruh lantak.

Saya ingat ketika pertama kali menontonnya bermain. Ketika itu, sekitar 2005-2006an, Taufik Hidayat masih jaya-jayanya, dan si anak ajaib Lin Dan baru muncul. Taufik yang mentereng dan Lin Dan yang sedang menanjak membuat saya tidak memperkirakan bahwa ada seorang atlet dari negara tetangga yang beberapa tahun ke depan mampu menggeser Taufik dan bersaing ketat dengan Lin Dan secara konsisten.

Berbeda dengan Lin Dan yang sudah terlebih dahulu “berkelahi” dengan Taufik Hidayat sejak 2005, Lee Chong Wei baru berhasil, katakanlah, mengejar prestasi mereka mulai 2008 saat menempati peringkat satu dunia.

Tetapi, menjadi peringkat satu saat Taufik dan Lin Dan masih bermain berbarengan bukan perkara mudah. Peringkat satu tak selamanya menang berkompetisi. Buktinya, ia masih terseok-seok. Ia melaju mulus hingga final Olimpiade Beijing 2008 tetapi dihancurkan dengan mudah oleh sekondannya, Lin Dan, 12–21, 8–21. Meski meraih perak pertama di olimpiade, ia perlu waktu untuk menyempurnakan footwork dan teknik permainan sembari mengalahkan cedera lutut pada periode yang sama. Cedera yang sama yang membuatnya mundur dari kejuaraan dunia.

Tetapi, jalan pejal itu lewat juga. Periode setelahnya adalah saksi betapa Lee Chong Wei pantas berada di papan atas pebulutangkis sektor tunggal dunia. Ia berhasil memenangkan beberapa kejuaraan BWF (dulu IBF) termasuk Malaysia Terbuka, yang kemudian ia menangi sebanyak 12 kali dalam karir bulutangkisnya.. Ia berhasil merangsek ke final All England pertama kali di tahun 2009 walaupun akhirnya kalah (lagi) oleh Lin Dan. Ia pun berhasil mempertahankan peringkat satu dunia selama 199 minggu berturut-turut sejak 2008 hingga 2012.

Medio 2008-2012 itu, saat Chong Wei berada di peringkat satu dunia, inilah yang saya sebut masa-masa emas Lee Chong Wei sekaligus bulan madu saya menonton kejuaraan bulutangkis sektor tunggal putra. Pada masa ini, para legenda pebulutangkis sektor putra, Taufik Hidayat, Peter Gade, Lin Dan, dan Lee Chong Wei berjibaku satu sama lain walau dengan problematika yang membelenggu masing-masing mereka. Taufik dan Peter Gade sudah berada pada masa penurunan prestasi, sementara Lee Chong Wei dan Lin Dan menghadapi runutan cedera yang timbul tenggelam. Tetapi, Lee Chong Wei tetap istimewa karena ia bisa menjaga tahta peringkat satu dunia.

Tetapi, toh bukan Lee Chong Wei kalau tidak memenuhi dirinya sendiri dengan paradoks. Pada periode yang sama saat ia berada pada titik paling atas, dia pun gagal memenuhi ekspektasinya sendiri untuk menghadirkan medali emas di ajang besar.

Dalam medio itu, ada tiga turnamen besar yang diikuti Lee Chong Wei: Olimpiade Beijing 2008, Asian Games 2010 Guangzhou, dan Olimpiade London 2012. Sayang, masibnya sama persis di ketiga turnamen itu. Ia berhasil merangsek ke final, tetapi kalah di tiga kesempatan itu oleh rival sekaligus kawan abadinya: Lin Dan.

Rentetan kekalahan di partai penting atas Lin Dan ini yang membuatnya semacam mempunya persoalan yang tak akan pernah selesai. Setelah 2012, selepas Taufik Hidayat dan Peter Gade sudah tidak bermain, ia pun tidak bisa merengkuh emas di kejuaraan bergengsi. Bahkan pada kejuaraan dunia sekalipun.

Padahal, di masa itu bisa dibilang otomatis perseteruan hanya terbatas pada Lee Chong Wei dan Lin Dan. Seraya mengejek, saya bisa menyederhakakan kalau tuntutan karirnya sederhana saja, mampu mengalahkan Lin Dan di turnamen besar demi mengamankan emas. Itu sudah.

Tetapi, kita memang tidak bisa membuat takdir menjadi matematika yang bisa dihitung, atau diprediksi. Pada gelaran Olimpiade Rio 2016, ia boleh mengalahkan Lin Dan di semifinal dalam episode paling berdarah selama saya menonton bulutangkis. Lee Chong Wei harus memainkan rubber game untuk menyudahi kengototan dan ketangkasan Lin Dan. Pertandingan yang seolah mengulang episode yang sama yang ia mainkan pada final Olimpiade London 2012, namun dengan hasil yang berbeda.

Namun, ia harus kalah pada pemain Tiongkok lain di final. Ia menyerah dalam dua set langsung pada Chen Long, si pemuda ajaib yang sampai saat ini masih ketakutan kalau menghadapi Anthony Sinisuka Ginting. Lee Chong Wei pun menutup sejarah olimpiadenya dengan kenyataan bahwa pencapaian terbaiknya serupa lagu Fiersa Besari: juara kedua.

Jika sepakbola memiliki Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, di bulutangkis ada Lee Chong Wei dan Lin Dan. Dua orang inilah yang mampu merajai kompetisi bergengsi dunia secara konsisten selama lebih dari satu dekade. Lee Chong Wei dan Lin Dan, yang menjadi sahabat karib, masih mampu menunjukkan kualitas dan teknik yang mumpuni meskipun beradu dengan pemain-pemain muda terbaik di seantero jagad.

Mereka berdua memiliki kedisiplinan dan determinasi luar biasa. Pernah, di final All England 2012, Lee Chong Wei memaksa untuk tetap bertanding di partai final melawan Lin Dan walau sedang menderita cedera bahu yang teramat sangat. Sepanjang pertandingan, ia tak meluncurkan smash. Ia hanya menaruh bola di tempat yang tepat untuk mengalahkan lawan. Taktik yang cukup membuatnya kalah tipis, 19-21, di set pertama. Ia kemudian harus menyerah di set kedua karena ia tak mampu menahan cederanya lagi. Skor saat itu 4-6 untuk keunggulan Lin Dan.

Kedisiplinan dan determinasi inilah yang membuat mereka menjadi patokan pemain-pemain muda. Tanya saja para pebulutangkis tunggal putra dunia. Mereka pasti menantikan saat melawan Lee Chong Wei atau Lin Dan. Peduli setan soal menang atau kalah, bertanding melawan para legenda ini sudah menjadi pelajaran yang pasti mereka kenang seumur hidupnya.

Saya kembali teringat pada masa Taufik, Peter Gade, Lee Chong Wei dan Lin Dan bermain bersama. Saat itu, menonton mereka berkompetisi di waktu yang sama adalah keniscayaan yang susah untuk bisa diulang. Bahkan, hingga saat ini, saya masih memutar klip-klip pertandingan mereka. Setelah kedua nama awal pensiun, saya bersetia menonton kill Lee Chong Wei dan Lin Dan yang luar biasa: mereka bisa melakukan diving defensive shot, lalu langsung mengubah strateginya menjadi menyerang dengan sekejap.

Tetapi, tampaknya, masa-masa indah itu telah berakhir. Pensiunnya Lee Chong Wei adalah kehilangan terbesar bagi bulutangkis modern. Kita tidak akan pernah melihat lagi wajah dinginnya ketika meraih poin demi poin, pertarungan antara ia melawan pebulutangkis Indonesia, hingga perseteruan abadinya dengan Lin Dan. Praktis, All England 2018 adalah ajang terakhir mereka bertemu. Sesudahnya, seperti perasaan rakyat Malaysia saat menyaksikan ia berbicara didampingi Syed Saddiq ketika mengumumkan pensiunnya, kita hanya bisa membayangkan bagaimana impian pertarungan-pertarungan yang seharusnya bisa melibatkan Lee Chong Wei tetapi tak akan pernah dimulai. Kita akan cuma bisa mengetuk kehampaan dan membuka pintu kenangan ketika mendengar nama Dato’ Lee Chong Wei: seorang pahlawan bagi bangsanya.

Selamat pensiun, legenda!

Leave a Reply

Your email address will not be published.