resensi,  upakyana

Berdetak dengan Detak

Detak EP

Charita Utami & Yudhistira Mirza

Detak EP

Charita Utami yang terbiasa bernyanyi dengan dendangan elektronik di Midnight Quickie kembali ke muasalnya. Dengan suara khas pesindennya, ia menemukan rumah di petikan gitar Yudhistira Mirza: penghunus alat musik yang sama di grup musik Parisude. Hasilnya adalah sebuah desauan musik yang  akan mengingatkanmu pada kota-kota di  tubuh Pulau Jawa.

4

lagu

16:16

menit

2

alat musik

Kala pertama suara Charita Utami memeluk petikan gitar Yudhistira Mirza -walau ada kesan diseret di sana-, saya tahu kalau album pendek ini tidak boleh saya lewatkan. Sejak lama, tepatnya waktu Tami, sapaan khas Charita Utami, melengkungkan suaranya dalam track “Our Roots” di album Rasuk milik The Trees and The Wild, saya merasa kalau ia harus mengeksplorasi kepiawaiannya memainkan cengkok pesinden yang ia miliki.

Seakan semesta mendukung, Yudhistira Mirza dari Parisude datang menjawab angan-angan saya itu. Dimulai dari dua tahun silam kala mereka berdua diminta bekerja sama untuk menjadi produser album solo milik salah satu teman mereka, perjalanan Detak mulai ditenun.

 

.

Banyak menghabiskan waktu untuk berembuk, keduanya pun rajin bertukar literasi nada. Tak dinyana, keduanya merasa memiliki ide bermusik yang sebangun. Lewat pondasi itu, mereka terus-menerus mengumpulkan materi, menulis lagu, dan menyempurnakannya.

Lewat petualangan yang tak mudah itulah, empat lagu pun lahir. Charita Utami menciptakan dua lagu yaitu “Nasi Liwet Solo”dan “Zzz”, sedangkan Yudhistira Mirza menciptakan dua lagu lainnya yaitu “Dersik” dan “Detak”. Selang dua tahun pengerjaan proses rekaman di ALS Studio, Yudhistira Studio, serta penambahan Gaharoom Studio untuk lagu “Detak”, juga pelibatan nama-nama seperti Dimas Martokoesomo, dan Agung Maulana Kustik, mini album Detak pun rilis. Satu album penuh lantunan tipis Charita Utami dibalut gitar akustik Yudhistira Mirza yang dengan ringannya membawa saya terbayang akan kota-kota di Pulau Jawa.

"Ini adalah desauan musik yang akan mengingatkanmu pada kota-kota di  tubuh Pulau Jawa."
@meidiawancs
penulis

Dersik diawali petikan gitar yang, menurut saya, kental sekali dengan pengaruh musik sunda. Ditambah pengaruh suara alam dari Pulau Belitung yang agak berisik di belakang lirihan nada, mau tak mau saya membayangkan gigir pantai di kala lereng malam telah tiba. Sesaat kemudian, setelah suara Tami masuk dan mulai menyanyi “Terbuai dalam tiupan nafasnya // Terbelai dalam sentuhan lembutnya // Aku hanya diam mendengar // Ketika teriakannya menggetar”, saya pun tenggelam. Tak kuasa lagi saya menolak lagu paling patah di album ini. Track ini kian sempurna dengan pelukan suara alat musik gesek yang menari-nari di sepanjang lagu. Ciamik!

Jujur saja, Yudhistira Mirza memainkan perannya dengan baik kala menciptakan lagu ini. Menurut saya, di lagu inilah nyawa suara Tami berhasil muncul dan menggeliat-geliat tak bertepi. Nada-nada yang mengungkungi bagian “Kejujuran dalam berirama // Seperti menegur dan menyapa // Bagai sentuhan dari yang tercinta” adalah bagian terindah dari keseluruhan mini album ini.

Buat saya, ini lagu paling eksperimental dalam mini album ini. Baik lirik, musik, hingga pesan yang disampaikan benar-benar denotatif. Tanpa teding aling-aling. Daripada bersibuk menyunggi bahasa yang puitik, Tami membuat lagu yang langsung menawarkan kenikmatan -ya, apalagi?- satu porsi nasi liwet solo. “Beras yang dicampur dengan areh // Didampingi ayam dan labu siam // Beralaskan piring daun pisang // Makanan yang kurindu // Nasi Liwet.”

“Zzzzz”, bagi saya, adalah penutup yang terlalu manis. Jika disambungkan dengan track sebelumnya, “Zzzzz” adalah periode kelelahan yang paripurna. Kau sudah makan Nasi Liwet Solo, kekenyangan, lalu di sembribit udara yang tidak terlalu dingin itu, kau akan mengantuk. Lalu, saat mata hampir mengatup, melodi lagu ini terngiang terus di telingamu terutama pada bagian “Hu… // Selamat tidur..” hingga kelak kau akan tidur dan matamu akan mengatup sempurna.

Rating

Musik 80%
Lirik 76%

Leave a Reply