esai,  perjalanan,  upakyana

Pentingnya untuk Sesekali Bersepi-sepi dengan Alam

 

Di rumah itu mereka tinggal berdua.
Bertiga dengan waktu. Berempat dengan buku.
Berlima dengan televisi. Bersendiri dengan puisi.

(Joko Pinurbo – Jendela)

Rata-rata orang memang menyukai kehingaran dan keramaian. Atau, paling tidak, menemui kehingaran dan keramaian setiap harinya. Oleh karena itu, orang-orang akan terbiasa menyemut di pasar, sekolah, atau tempat kerja. Pendeknya, mereka menyukai berpendaran di kota. Kehingaran dan keramaian itu kian lama kian menabalkan diri sebagai bagian dari hidup mereka karena institusi masyarakat lebih menghargai mereka yang mampu berinteraksi lebih daripada para penyendiri.

Tetapi, tidak semua bisa bersepakat dengan hal tersebut. Dunia mengenal Richard Byrd, penerima Medal of Honor: sebuah penghargaan tertinggi dan paling prestisius dari Amerika Serikat yang diberikan kepada anggota militer yang melakukan tindakan-tindakan paling berani, yang menjelajah kutub dan memimpin ekspedisi menyeberangi Samudra Atlantik, Samudra Arktik, dan Dataran Tinggi Antartika lewat jalan yang benar-benar sunyi. Setiap hari, kala berekspedisi di Antartika, Richard Byrd pergi keluar untuk berjalan-jalan dalam suhu minus 57 derajat Fahrenheit, berderakan di atas salju, berjalan berputar, lalu hinggap pada suatu dataran untuk mendengarkan ketiadaan.

Semua hal itu dilakukan Byrd dengan kesadaran penuh. Ia rela bersendiri, tidak ditemani siapa pun, demi mengecap apa yang ia sebut sebagai tindakan untuk merasakan kedamaian, ketenangan, dan kesunyian selama mungkin sehingga ia bisa mencintainya sedemikian rupa. Tak cuma Byrd, kita pun mengenal Chris Mccandless yang meninggalkan segala kemewahan dunianya untuk mendaki keliaran Alaska dan memahami kesunyian secara lebih dekat dan lebih pekat.

Lelaku yang dijalani Byrd atau McCandless mungkin tidak terlalu berterima dalam masyarakat kita saat ini. Budaya kita adalah budaya yang bersandar kepada interaksi sosial sehingga mereka yang suka berkelana sendirian sudah cukup beruntung kalau hanya sekadar dianggap aneh.

Padahal, dahulu sekali, para moyang kita menghabiskan lebih dari 2,5 juta tahun untuk melakukan kegiatan yang sama: bergerak ke sana ke mari. Mereka berjalan tanpa pernah singgah terlalu lama di sebuah tempat dengan tujuan mengumpulkan bahan makanan dari alam.

Peradaban yang mensyaratkan manusia menetap baru datang kemudian. Sepuluh ribu tahun yang lalu, era yang dinamakan era modern lahir. Pertama di Turki, Iran, lalu berpindah ke Timur Tengah dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Era itu ditandai dengan revolusi agrikultural. Mereka berhenti bergerak dan lebih memilih untuk mulai memanipulasi serta merawat tanaman dan hewan di tempat mereka tinggal. Mereka juga mengabdikan hari-hari mereka untuk menabur benih dan memerangi gulma, serta membawa ternak ke padang rumput dan melawan predator. Mereka singgah dalam waktu yang lama di suatu tempat untuk kemudian memulai kehidupan urbannya.

Selain budaya berkumpul dan interaksi sosial yang kian utama, akibat lain dari perubahan ini adalah hilangnya keinginan manusia untuk hidup langsung bersentuhan dengan alam. Pada akhirnya, revolusi urban pun datang dan mencampakkan keinginan manusia untuk bersepi-sepi.

Ketika kemudian sisi lain revolusi urban membuat manusia lebih terbelenggu dengan kehidupan kota dan menceraikannya dengan alam, keramaian akan memperparahnya dengan mencerabut komponen kunci kehidupan manusia yang utama: kepekaan. Penelitian Richard Louv, seorang aktivis alam, bahkan membuktikan kalau kehidupan urban memiskinkan pengalaman indrawi manusia dan semakin lama akan menggerus olah rasa yang seharusnya dimiliki manusia.

Tesis Louv dibuktikan lewat sebuah riset yang dilaksanakan University of London. Dalam riset itu, ditemukan bahwa anggota suku penggembalaan ternak Himba di Namibia yang menghabiskan hidup mereka di alam terbuka memiliki rentang kewaspadaan dan rasa puas yang lebih besar daripada penduduk Inggris yang hidup di perkotaan. Ketika anggota suku yang sama dipindahkan ke pusat kota, rentang kewaspadaan dan tingkat kepuasan mereka turun hingga mencapai tingkat yang sama dengan para penduduk kota pada umumnya.

Dr. Karina Linnell, pemimpin penelitian ini, sempat heran dengan betapa superiornya penduduk pedesaan Himba. Dia bahkan sampai pada kesimpulan yang menyatakan bahwa para penduduk Himba mampu mengoptimalkan fungsi raga dan rasa bagi manusia dalam menjalani hidup.

Fungsi raga dan rasa itu bisa terasah sebab tempat mereka tinggal mendukung berkembangnya fungsi-fungsi raga dan rasa tadi. Berbeda dengan tata kota yang padat dan berdesakan, alam menyediakan ruang-ruang yang membuat manusia bisa lebih tenang dan kecapan indrawinya lebih kuat.

Kebersendirian dan persinggungan dengan alam ternyata juga berkorelasi positif pada keadaan fisik seseorang. Perjalanan singkat ke hutan dapat membuat tingkat kortisol seseorang turun dan kekebalan tubuh meningkat.

Secara kumulatif, persinggungan manusia dengan alam akan menjadi semacam obat bagi redupnya kualitas jiwa. Itu adalah obat dari luka yang telah tumbuh dan berbiak karena kota itu, menyitir kalimat Pip dalam The Great Expectations, seperti kotoran, lemak, darah, dan busa. Bersinggungan dengan alam adalah obat yang hampir selalu diresepkan oleh para psikolog apabila menghadapi pasien yang mengidap kecemasan dan kekhawatiran akut pada hidup.

Maka, berjalan keluar dari rumah dan melangkah jauh di luar batas kota adalah sebaik-baiknya cara untuk menyingkirkan pretensi dan asumsi kita akan kecemasan hidup. Beginilah cara kita untuk membuka diri terhadap gagasan baru, berdamai dengan pikiran sendiri, hingga mengembangkan perasa-perasa yang dimiliki.

Bersendiri dan menyepi dengan alam, bagi beberapa orang, juga menjadi jeda dari cekikan kehidupan rumah tangga, hubungan yang menyakitkan tanpa tahu kapan harus berakhir, atau keresahan terhadap masa depan yang tak pernah terpermanai. Dalam suatu periode, bersendiri juga akan menajamkan intuisi dan inovasi. Thomas Hobbes, JJ Rousseau, Albert Einstein, Charles Dickens, Bunda Teresa, Martin Luther King Jr., Francis of Assisi, dan Toyohiko Kagawa melahirkan ide-ide cemerlangnya ketika menjauh dari keriuhan kota. Kita pun akan selalu ingat tentang Newton yang merumuskan gravitasi ketika bertelekan di bawah pohon apel dengan kesendiriannya. Lantas, mengapa kita takut untuk bersendiri?

Padahal, sudah seharusnya kita sadar bahwa perjalanan paling jauh yang harus ditempuh manusia adalah menemukan diri sendiri, dan untuk itu, kita harus menyadari bahwa ada semesta yang lebih penting daripada kerumunan urban. Kerumunan urban itu, sebenarnya, tidak menyediakan apa-apa karena semua yang kita butuhkan sudah tersedia di alam semesta. Melalui persinggungan-persinggungan itulah perjalanan paling penting itu akan kita tempuh dan membuat kita menyadari bahwa kesendirian bersama alam justru adalah sebenar-benarnya rumah.

2 Comments

Leave a Reply