perjalanan,  upakyana

Dolanan yang Memugar Ingatan

Bagikan

Gadis kecil itu melempar pecahan genteng ke jalan raya. Di dalam sebuah gambar kotak yang dibentuk dari garis kapur, pecahan tadi mendarat dengan sempurna. Kemudian ia melompat-lompat dengan kaki kanannya sementara kaki kirinya ia angkat. Ia berusaha keras menjaga keseimbangan sambil menjejaki gambar-gambar kotak lainnya yang tidak berisi pecahan genteng. Setelah sampai di ujung, ia berbalik dan melompat kembali ke tempat semula sambil membawa pecahan genteng yang tadi ia lemparkan. Lalu, ia pun melempar lagi, namun kali ini ke gambar kotak lainnya.

“Seru, Mas“, kata gadis kecil itu pada orang di sebelahnya yang lalu menanggapi dengan simpul senyum dan anggukan kecil.

Ada kata “Engklek” ditulis besar-besar di sebelah gambar kotak-kotak itu. Melihat tulisan itu, rekah senyum tak mampu saya tahan. Pun ketika melihat tingkah gadis kecil tadi yang mengulang lompatannya dengan mimik serius. Kadang ia goyah, keseimbangannya hilang, atau lompatannya kurang stabil. Tapi ia betul-betul berusaha untuk tidak terjatuh meski harus bergoyang-goyang menemukan titik keseimbangan yang terlucuti itu. Senyum saya pun berganti tawa kecil. Belasan tahun lalu, saya adalah gadis kecil itu yang bermain engklek saban sore.

DSCF0914

Setiap minggunya, Car Free Day menjadi tempat berkerumun orang-orang dari pelbagai penjuru Semarang. Di sana pula, aneka komunitas menggelar aktivitas interaktif dengan para pengunjung Car Free Day.

Engklek yang dimainkan oleh gadis tadi adalah satu rupa permainan yang ditawarkan Forum Komunikasi Peduli Sosial Pendidikan Semarang (Forkom PSP). Selain engklek, ada pula gasing, egrang, bakiak, dakon, boy-boyan, lompat tali, dan yoyo. Forkom PSP sengaja memilih permainan tradisional untuk dimainkan dalam Car Free Day sebagai bagian dari perayaan Hari Anak Nasional 23 Juli 2016.

Saya melenggang menuju kerumunan lain di sebelah gadis kecil tadi. Di sana, seorang anak kecil sedang menggulungkan tali ke sebuah gasing. Beberapa saat kemudian, dipelantingkannya gasing itu hingga berputar. Di belakangnya, beberapa anak lain mengantri. Mereka menunggu giliran untuk memainkan gasing. Tapi, sayang sekali, anak kecil tadi masih ingin bermain lebih lama dengan gasing sehingga air muka muram menghiasi wajah antrian anak-anak lain itu.

Baca Juga:   Java Jazz yang Selalu Dekat

DSCF0918

“Nyoba egrang yok, boss“, saya menantang Galuh, adik saya.

“nggak mau, ah, Kak Rian aja”, jawabnya.

“Ayo coba sek, to. Kayak’e gampang”, saya menukas sembari berjalan menuju egrang yang tidak dipakai.

Ketika kaki kanan saya tapakkan di egrang, saya masih sedikit ragu bisa berjalan menggunakan egrang. Namun begitu kaki kiri saya naikkan juga, keraguan tadi lenyap. Ternyata, susah sekali memainkan egrang. Saya kehilangan keseimbangan dan langsung melompat turun sebelum aspal menerima tubuh saya. Adik saya senyum-senyum saja dari kejauhan. “Asem!”, umpat saya dalam hati.

Walaupun sulit, egrang menjadi sebuah tantangan sendiri bagi anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Mereka penasaran bagaimana caranya menjaga keseimbangan hanya dengan bertumpu pada dua bilah bambu. Tak heran jika antrian permainan egrang ini cukup panjang, padahal hanya ada tiga buah egrang yang disediakan oleh Forkom PSP.

Selain saya yang sedang bersusah payah mencoba menaiki egrang kembali, dan akhirnya tetap gagal juga, ada seorang anak laki-laki kecil lain yang tampak tegang saat mencoba menaiki egrang. Padahal, ia sudah dipegangi dan dipandu Forkom PSP. Tapi, toh keseimbangan bekerja seperti nasib. Ia hanya berlaku pada pribadi masing-masing. Begitu pegangan dari pemandu dilepaskan, anak kecil itu terseok-seok, persis seperti saya. Akhirnya, dia pun mengambil pilihan saya: menyerah saja daripada babak belur dihantam aspal dan malu.

DSCF0927

Sementara saya menyerahkan dua bilah egrang pada pemain berikutnya, tawa lepas terdengar dari arena lompat tali. Dari suaranya, jelas tawa itu tidak berasal dari kebahagiaan para pemain menaklukkan tali. Sebaliknya, sudah tidak terhitung berapa kali tali yang dimainkan tersangkut dan pemainnya gagal bertahan melompat lebih lama. Alih-alih kesal, mereka malah tertawa terbahak-bahak dan mencoba melompat lagi walau tidak mengubah hasil.

Baca Juga:   #KartiniDJP Retno Widi Astuti, Penggemar Ular, Menyita tanpa Gentar

DSCF0945

Keriuhan pelbagai permainan tradisional pagi itu mau tidak mau membenturkan ingatan masa kecil saya. Kala gedung-gedung belum terlalu menghampari bumi, jalanan adalah tempat bermain saya. Walhasil permainan tradisional terasa sangat akrab dengan kehidupan masa kecil saya, juga generasi saya, karena permainan itu dulu sering saya mainkan bersama anak-anak tetangga. Namun pagi itu, nuansa keakraban juga terlihat di generasi yang lebih muda. Mereka yang dihadapkan pada kenyataan gedung-gedung yang lebih tinggi dan lahan permainan mereka yang makin menyempit.

“Seru, ga, Dik?”, saya bertanya kepada anak laki-laki lain yang sedang mencoba egrang.

Angel e, Mas. Tapi pengen nyoba lagi.” sahutnya

“Udah main apa aja?”

“baru ini sama gasing. Habis ini mau nyoba bakiak. Nyari temen sek tapinya”, Ia masih terus mencoba egrang, sedangkan mata saya tertumbuk pada hal lain.

Seorang ibu tak kalah turut larut menggelindingkan bola tenis ke tumpukan pecahan genteng. Ia sedang memainkan boy-boyan. Beberapa kali bola tenis ia gelindingkan, tumpukan pecahan genteng masih lolos dari terjangan. Namun, ia tetap mencoba.

“Ini mainan saya waktu dulu he, Mas”, ia berkata sambil menyapa ketika saya mendekatinya.

“Seneng banget sekarang bisa main ini lagi. Mudah-mudahan acara kayak gini sering ada ya.” sambungnya.

“Iya, Bu. Saya juga tertarik mainan kayak gini lagi, hehe“, jawab saya.

Dulu sekali, mungkin lima belas tahun silam, hampir setiap sore, saya memainkan bakiak dan engklek. Kedua permainan itu adalah kemahiran saya. Bakiak juga lah yang menjadi andalan saya meneguk macam-macam hadiah dalam acara tujuhbelasan kampung. Sedangkan boy-boyan dan lompat tali saya mainkan sebagai bagian gelak tawa bersama teman-teman saja. Tak lain karena saya betul-betul tidak mahir memainkannya.

Baca Juga:   Gurun Puisi WS Rendra

Matahari sudah sepenggalah. Teriknya mulai memanaskan kepala. Saya pun bersiap pulang. Namun, saya sempatkan menghampiri seorang anggota Forkom PSP yang sayangnya, saya lupa menanyakan siapa namanya. Pemuda tanggung itu saya paksa bercerita pada saya tentang acara dolanan tradisional ini.

Ia menjelaskan bahwa acara ini hadir sebagai kampanye mengenalkan ulang khazanah permainan yang sudah mengakar lama. Menurutnya, salah satu kelebihan permainan tradisional dibandingkan permainan modern, terutama yang ada di ponsel pintar, adalah sifatnya yang komunal sehingga menimbulkan interaksi antar manusia. Dengan begitu, kepekaan bisa terasah sejak kecil.

Bagi saya sendiri, permainan tradisional adalah arena memugar ingatan akan kenakalan dan tawa masa kecil yang terlupakan dan terhapus bermacam kesibukan seiring pesatnya pertumbuhan gedung dan usia. Di acara dolanan tradisional Minggu itu, ingatan, keceriaan, pengalaman, hingga kebahagiaan yang telah lalu timbul dan bertemu kebahagiaan baru.

Merasa telah cukup bergulat dengan aneka permainan masa kecil, saya ayunkan langkah kaki menuju rumah. Belum lama meninggalkan pemuda tadi, langkah saya berhenti di arena permainan engklek. Tinggal beberapa orang saja yang masih bertahan dan mencoba memainkannya. Saya memandang ke atas. Tak heran, batin saya. Matahari sudah mendaki sepenggalah dan teriknya mulai terasa.

Hari makin siang, Car Free Day akan segera berakhir, dan jalanan akan kembali lengang. Gambar kotak dari kapur juga akan dihapus dan peralatan akan dibawa pulang. Tinggal saya yang menggantung harapan tentang ingatan masa kecil saya yang telah dipugar akan tetap berdiri lewat kesempatan memainkan dolanan tradisional sekali atau berkali-kali lagi.

DSCF0978


Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *