esai

Tiga Puluh Tiga Tahun dan Gerhana

gambar dari bambang setyoyoko

Gerhana Matahari Total kala itu jatuh pada hari Sabtu, 11 Juni 1983. Menteri Penerangan, Harmoko, dengan ucapan yang diawali “menurut petunjuk Bapak Presiden….” meminta masyarakat untuk tetap tinggal di dalam rumah saja karena gerhana matahari total dianggap membahayakan. Arahan ini dilanjutkan sikap sendhiko dhawuh dari jajaran pemerintah di bawahnya. Camat, Kapolres, serta Danramil membuat pengamanan ekstra agar masyarakat benar-benar melaksanakan arahan Presiden. Ketakutan yang disebarkan secara sistematis dan terstruktur oleh pemerintah saat itu sukses membuat jalanan menjadi lengang dan masyarakat menjadi tegang.

Kala itu, pemerintahan yang ada memang menekak habis pendapat-pendapat yang berbeda dari pendapat resmi pemerintah (baca: presiden). Setiap ucapan presiden dianggap seperti fatwa, bahkan bisa disebut sabda. Dengan suasana totalitarian seperti itu, masyarakat dengan mudahnya mengangguk setuju daripada harus dicokok karena dianggap subversif atau membahayakan kepentingan negara.

George Bernard Shaw pernah mengatakan bahwa orang di masa kini bisa lebih takhyul daripada orang abad pertengahan. Mereka lebih suka menyetujui hal-hal yang jauh dan tak tergapai begitu saja tanpa membangun jembatan pemahaman yang utuh. Saat itu, misalnya, orang lebih mengiyakan gerhana matahari menyeramkan dan membahayakan tanpa belajar atau memahami bagian ontologis dari pernyataan tersebut.

Pernyataan Shaw memang sesuai dalam kondisi waktu itu. Informasi, saat itu, tidak dapat diakses dengan mudah dan cepat seperti sekarang. Masyarakat tidak dengan mudah mendapatkan -serta menyebarluaskan- argumen untuk membantah kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Informasi, juga pengetahuan, adalah kuasa otoritatif. Sikap otoritas yang mengangkangi ilmu pengetahuan membuat jalan pikiran masyarakat terbonsai sehingga nalar kritis terkekang dan pengetahuan tidak berkembang. Mau tak mau sebagian besar masyarakat pun menjadi pengikut tanpa rasionalisasi.

George Orwell sering melontarkan betapa kemandekan berpikir secara masif dan kuasa otoritas akan saling berhubungan. Magnum opusnya, 1984, bercerita bagaimana otoritas bisa merekayasa pikiran dan membuat kemandekan berpikir secara masif. Dalam buku itu, otoritas dengan outer party-nya menanamkan ideologi menggunakan simbol-simbol hingga pemaksaan ke alam bawah sadar. Dalam esai kecilnya, Orwell bahkan menuliskan percakapan ontologis antara dua orang untuk mempertanyakan dari mana kita mendapatkan pengetahuan.

Kedua tulisan Orwell itu mungkin berbeda kemasan, namun sejatinya Orwell ingin mengingatkan kita bahwa otoritas yang menggurita dan terkungkungnya pikiran kita adalah sesuatu yang kausal. Kemalasan berpikir akan membuat kita menutup mata serta pintu perbedaan pendapat. Lalu sikap apatis akan terbentuk dan menerima segala kata menjadi sabda. Otoritas kemudian mengambil kendali kita. Lalu kita menjelma sahaya. Kita tak ubahnya kerbau yang hidungnya dicocok ke mana-mana.

Tiga puluh tiga tahun berselang, kita masih bisa menemukan perilaku yang dituduhkan Orwell. Tentu yang dimaksud bukan tentang perilaku otoritas yang menguasai pengetahuan. Otoritas “yang itu” telah runtuh delapan belas tahun silam. Pemerintahan kini menuju fase yang lebih baik jika dibandingkan sikap otoritas yang itu. Udara demokrasi lebih luas merayap dan bisa dihirup siapa saja. Begitu juga pengetahuan. Ia memiliki banyak tempat untuk berkembang.

Namun kemandekan berpikir masih berjangkit di mana-mana. Kemandekan, yang agaknya, membuat kritik Orwell masih relevan untuk ditempatkan dalam kondisi sekarang. Sikap generasi kini yang banjir informasi cenderung susah untuk menyortir apa yang harus mereka masukkan ke dalam kepala. Jumlah informasi yang beredar terlalu banyak, sedangkan waktu yang tersedia untuk mengonsumsinya terlalu sedikit. Lewat asumsi bahwa tiap detik adalah uang, mereka bersikap seakan tidak ada jeda untuk menghela napas dan memamah tiap keping informasi. Jalan pintas pun diambil. Telan saja mentah-mentah, konfirmasinya belakangan.

Jika memilah saja adalah sebuah keengganan, bagaimana dengan sikap untuk memberikan ruang kepada kritisisme?

Kritisisme akan mandek, dan mereka -juga saya- akan terjerembab ke dalam kubangan suasana purba. Suasana keberpihakan tanpa tapi di mana kata akan ditelan seperti sabda.

Secara tak sadar, kita akan -dan telah- telah memberikan ruang-ruang pikir kita untuk didikte oleh otoritas lain. Otoritas seperti ormas, paham, media, atau bentuk lain yang memiliki akses untuk memproduksi informasi. Dan kita menelannya bulat-bulat seperti obat malaria.

Padahal, pemahaman adalah proses. Kita tentu masih ingat untuk tidak silau atas nama-nama dan predikat-predikat yang kadung diterakan. Kita juga masih ingat untuk selalu disuruh bertanya karena tidak ada jawaban yang paripurna. Runutan pertanyaan akan membawa kita ke pemahaman yang lebih dalam. Tapi itu pun masih jauh dari usai. Pemahaman, seperti halnya hidup, hanya memiliki fase proses. Kematian mungkin menghentikan nyawa, tapi ia tidak menghentikan proses.

toleran-nyepi dan sholat gerhana dilaksanakan di hari yang sama – gambar dari Nirwana TV

Jika begitu, maka isi dari kehidupan kita adalah rangkaian prosesi dan pertanyaan. Tapi, sampai manakah?

Mungkin hanya kernyitan dahi yang mampu menjawabnya. Tidak ada yang paham sejauh mana kita telah memahami kehidupan. Manusia selalu berada dalam posisi ambivalen. Mereka merasa telah mengarungi makna kehidupan, namun selalu bertanya-tanya. Mereka merasa terlahir sebagai makhluk yang agung karena berakal, tapi sekaligus makhluk yang kerdil karena tak jauh lebih besar dari tepian debu di hadapan semesta.

Maka tiga puluh tiga tahun mungkin terlampau singkat untuk mengukur sejauh manakah pemahaman itu berproses. Terlalu pendek malah. Ia hanya bisa mengukur panjang nyawa suatu orde yang pernah berkuasa. Di tengah usia peradaban manusia, tiga puluh tiga tahun pun hanya terasa seperti satu kedipan mata dalam sehari. Tak lebih.

Tapi dalam tiga puluh tiga tahun itu juga, terjadi pembebasan suara senyap yang lama dibungkam oleh sebuah republik. Tiga puluh tiga tahun itu pun menandai ribuan orang yang lahir dan mati. Dan, tiga puluh tiga tahun itu juga menandai perubahan paradigma dari ketakutan menjadi keriuhan dalam menyaksikan gerhana.

Tiga puluh tiga tahun yang lalu, kegentaran mungkin beredar di mana-mana. Kekuasaan, saat itu, mendesak habis masyarakat agar patuh untuk takut terhadap peristiwa gerhana matahari.

Namun, kini keriuhan menjalar dalam bentuk yang mungkin tidak akan dinyana oleh masyarakat tiga puluh tiga tahun lalu. Informasi yang mudah didapat mengakibatkan gerhana menjadi objek wisata yang membuat orang-orang berkerumun untuk melihatnya. Ketakjuban, kesenangan, serta keceriaan menguar dari wajah mereka meskipun ada pula rasa rendah dalam hati ketika melihat fenomena itu. Bahwa nun di sana, dalam jarak yang jauh, cahaya bisa terhalang sempurna dan menyisakan percik-percik di tepinya.

Sholat Gerhana di Tugu Jogja – didapat dari Indonesiatauhid

Maka ibadah-ibadah yang didirikan setelahnya adalah kesepian yang maujud dari hingar-bingar itu. Bahwa pada akhirnya, kita pun luruh, dan merasa jika kita tak ubahnya setitik atom di hamparan kekuasaan yang maha. Dan di antara spasi-spasi yang dilambari euforia, ada yang menyepi untuk sibuk menangkup makna Sang Maha Agung.

Datangnya gerhana matahari mungkin memiliki arti bahwa apa pun yang akan tiba pada tiga puluh tiga tahun setelah ini, kita tidak akan pernah tahu. Apakah otoritas nanti akan kian melunak? Apakah ruang-ruang pikir, kritik, perintah, dan argumentasi berkembang menuju arah yang lebih baik? ataukah kita masih menjadi bagian dari sikap purba dengan melulu memihak dan tendensius tanpa tapi?

Atau mungkin saja Gerhana Matahari memang hadir sebagai penanda akan pertanyaan: sejauh manakah kita memahami proses hidup kita? Dan kita akan sekonyong-konyong menjawab bahwa kelak, pemahaman itu mungkin bermuara pada pengingat tentang hidup yang, mengutip Goenawan Mohamad, hanya suatu aksiden tanpa makna kecuali saksi keakbaran sang pencipta.

Leave a Reply