Tag Archives: upakyana

Musik Terbaik dari Samurai X

      No Comments on Musik Terbaik dari Samurai X

Sekitar lima belas tahun silam, (Keparat! Deretan kata ini membuat saya merasa tua betul) kala hidup masih terasa baik-baik saja dan kegamangan terbesar adalah bagaimana menghindar dari tugas mengepel lantai saban harinya, film kartun menjadi sarana pelepasan terbaik. Setiap sore, setelah berletih-letih mengaji dan bibir menjadi kering akibat mengucap huruf-huruf dari jazirah asing, saya akan memaku pandang kepada televisi dan… Read more »

Kampung yang Dibuat dari Pelangi

      No Comments on Kampung yang Dibuat dari Pelangi

Tahun lalu, beberapa anak muda menjinjing kaleng cat ke sebuah perkampungan di Gunung Brintik, Semarang. Mereka meminta izin mengecat beberapa rumah sebagai salah satu proyek kuliah. Kampung yang semula kumuh dan seram karena berbatasan dengan pekuburan terbesar di Asia Tenggara itu, dipulas warna-warni. Imaji menyeramkan yang lama tertabal pun luntur. Melihat warna-warni menghiasi sebagian rumah, Pemerintah Kota Semarang yang kebetulan… Read more »

Memainkan Mimpi-Mimpi di World of Ghibli

Tidak banyak film animasi yang bisa memenuhi prasyarat sebuah mutu baik: mampu bercerita dengan indah dan memenuhi ruang hati penontonnya dengan perasaan yang berwarna. Dari sedikit film yang bermutu baik itu, film-film produksi Studio Ghibli adalah sebagian yang punya posisi tak tergoyahkan. Mereka, secara konsisten, menyajikan film-film animasi yang bisa memberikan nuansa hangat di dada. Saya sendiri tidak terlampau ingat… Read more »

Dari Sepucuk Pagi di Sungai Kuin

      No Comments on Dari Sepucuk Pagi di Sungai Kuin

Menyesuaikan diri akibat perpindahan bagian waktu mungkin akan selalu menjadi soal yang tak bisa saya atasi. Bergeser satu jam saja, pola tidur saya sudah rusak. Apalagi jika bergesernya jauh lebih banyak. Perlu beberapa hari untuk membuat metabolisme tubuh kembali wajar sehingga mulut bisa mengkremus serta perut juga bisa murus-murus dengan khidmat serta lancar. Makanya, saat diharuskan bangun pada pukul 04.00 WITA, saya… Read more »

Busana adalah Identitas

      3 Comments on Busana adalah Identitas

Sekurang-kurangnya, dua stel kemeja berwarna biru-muda-agak-tua-sedikit-yang-memiliki-kode-pantone-658c pasti selalu tersedia di lemari setiap PNS Kementerian Keuangan. Soalnya, peraturan perklambian menegaskan betul kalau PNS Kemenkeu harus mengenakan kemeja itu, berpadu dengan bawahan biru tua, saban Rabu. Maka, haram hukumnya para PNS ini, termasuk saya, kalau hanya memiliki satu stel saja, apalagi tidak punya. Selain bakal dipandang dengan mata yang terpicing, tidak mengenakan… Read more »

Nyoto Roso: Sisa Pertaruhan Para Penjaja Penganan di Pantura

Jarum jam baru saja berlari dari angka 12. Sayup-sayup, gema lapar menguar di udara. Cuaca Batang, kota kecil di garis pantura, mengirimkan keroncongan langsung ke perut orang-orang. “Nanti siang makan di Nyoto Roso ya, ayamnya enak,” Istri saya memberi tanda kalau perutnya juga ikut berontak dan minta diisi. “Jauh nggak dari sini?” “Lumayan. Deket perbatasan Batang-Kendal.” Duh, Gusti. Mobil kami baru… Read more »

Atap

      2 Comments on Atap

Senyumnya selalu mengembang ketika kepala saya melongok dari pintu yang setengah terbuka. Ia seakan tertawa, tetapi tanpa gelak. Hanya gigi-gigi mungilnya yang bergeletuk menyambut saya, ayahnya, kembali ke Semarang setelah meninggalkannya pada hari-hari kerja. Di sela senyum, ia selalu memanggil jabatan dan nama depan saya: “Ayah Meidiawan”. Lalu, peluk-peluk pun berhamburan. Dia dan saya tidak pernah kikir dalam merayakan kebahagiaan… Read more »

Mengerat Senja di Pelabuhan Sunda Kelapa

Matahari belum surut dan sore belum begitu rapi waktu saya beranjak ke arah utara. “Kalau Jakarta sedang tidak panas dan jalanan juga sedang tidak ramai, pergilah ke Pelabuhan Sunda Kelapa”, kata seorang teman. Ia mengucapkannya beberapa bulan lalu. Tetapi, baru sore ini saya bisa menggelandang diri ke sana. Kebetulan, hari sedang libur dan sengatan matahari seperti remaja yang kali pertama… Read more »

Apriani

      No Comments on Apriani

Kita memang mudah “gumun” dengan remaja yang, katakanlah, melampaui zamannya. Lihat saja penduduk jagad maya yang semingguan terakhir terus membahas Afi (bukan singkatan dari Akademi Fantasi Indosiar), pemudi yang status media sosialnya selalu ramai, dan Naufal, pemuda penemu listrik dari pohon kedondong. Afi dibahas karena status facebooknya. Lewat jejaring sosial mirik antek yahudi amrikkiyah itu, Afi menerbitkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang… Read more »

Sati, Jihad, dan Mereka yang Mendatangi Kematian

sebuah tanya tentang kematian  Meskipun suaminya telah tiada, Dewi Anggraini tetap bergeming terhadap rayuan Arjuna. Ia lebih memilih melakukan bela pati, mengakhiri nyawanya sendiri, daripada menjadi istri Sang Lelananging Jagad. Anggraini mengikrarkan cintanya hanya kepada Ekalaya. Cinta yang juga membawanya tumpas dalam janji sehidup semati berbalut kesetiaan. Apa yang ada di pikiran Dewi Anggraini tatkala memutuskan untuk menemui maut yang… Read more »