Forever: Manifestasi Musik Latar dari Tohpati

Membicarakan gitar di Indonesia tanpa Mas Bontot, panggilan Tohpati, sama seperti membicarakan terang tanpa matahari, atau membicarakan cinta tanpa rasa yang berbalas. Ketiganya kurang lebih sama: kosong belaka dan tidak masuk akal.

 

Tohpati adalah salah satu peletak dasar musik gitar instrumental modern di Indonesia. Walau perjalanan karirnya dimulai dari band Simak Dialog dan Halmahera, tetapi album self titled mungkin adalah satu rilisan yang menentukan lebih dari 25 tahun perjalanan karirnya ini. Di album ini, Tohpati memadukan beberapa track instrumental penuh dan track lain yang menghadirkan vokalis seperti Shakila dan Glenn Fredly. Buat saya, ini adalah peletakan lanskap imaji yang membingkai Tohpati hingga sekarang, yakni seorang musisi sekaligus pencipta lagu garda depan Indonesia.

 

Tak ayal Tohpati kemudian dianggap mumpuni secara berlebih, melebihi titelnya sebagai gitaris. Ia menjelma sebagai produser handal. Dalam rentang waktu lebih dari 25 tahun itulah ia menaruh posisinya di tengah samudera musisi Indonesia dengan tak tergoyahkan.

 

Pada 17 April lalu, perjalanan Tohpati berlanjut dengan merilis album solo ke-14 nya bertajuk “Forever”. Setelah sangat produkti pada tahun lalu dengan mengeluarkan dua album sekaligus, Janapati dan Luhur, album Forever menjadi penanda karya baginya di tahun 2020 ini.

 

Sebagai album dengan format full instrumental, forever memiliki jumlah track  yang cukup sedikit, yakni hanya 7 lagu. Jumlah ini setara dengan album Gitar Ramadhan, tetapi lebih sedikit dari albumnya yang lain.

 

Namun, bukan Tohpati kiranya jika tidak memahat kebaruan dalam setiap albumnya. Tohpati, saya kira adalah, penggemar reksplorasi ria dengan jenis-jenis musik yang memerlukan keahlian menghunus gitar. Ia pernah menggila dalam balutan rock di album Tohpati Bertiga dan Tribal Dance, bermain dengan nuansa musik daerah di Luhur, atau memetik syahdu di bawah naungan orkestra lengkap.

 

Eksplorasi jenis terakhir yang ia usung menjadi nyawa di album Forever ini. Tentu pergumulan ini bukan hal baru baginya. Tohpati pernah merilis Instrumental Chrisye by Tohpati dan Janapati, album duet yang ia kerjakan dengan Dewa Budjana, dengan format yang sama. Keisengannya untuk membuat album solo dengan format serupa lagi mungkin menegaskan bawha ia senang menggunakan insting kepiawaiannya untuk membalut-balut suara gitar dengan jalinan orkestra yang sangat megah.

 

Tetapi, meskipun format ini bukanlah format baru, ada rasa yang tergelitik dan membuat saya begitu tertegun menikmati baris demi baris lagu yang ia urutkan sejak awal hingga akhir album. Saya harus memutarnya berulang-ulang hingga sadar kalau nuansa yang disajikan oleh Tohpati justru mengingatkan saya pada Joe Hisaishi.

 

Tohpati mengaransemen satu album ini laiknya sebuah musik latar dari sebuah film. Berbeda dengan pendekatannya saat menggarap Instrumental Chrisye by Tohpati atau Janapati yang menitikberatkan kepada alunan melodi dari gitar sebagai pondasi dan orkestra sebagai pelapisnya, Tohpati menganyam serat-serat melodi dengan lebih lembut pada Forever. Pada tiap lagu, seolah ia memainkan tempo dan menyerahkannya kepada satu nuansa. Nuansa ini yang kemudian bisa kita nikmati dengan keintiman yang teramat dekat dengan beberapa adegan yang biasanya ada di film.

 

Jatuh Cinta, misalnya, diaransemen ulang dengan tumpukan string section yang tidak memaksakan diri untuk mengambil alih kendali. Sebaliknya, Jatuh Cinta menjelma track yang teramat megah dan membuat kita, mau tak mau, membayangkan sebuah altar pernikahan. Di track ini, saya merasa nuansa Joe Hisaishi muncul dan lantas membuatnya cocok dijadikan salah satu musik latar di film-film Miyazaki.

 

Serupa dengan Jatuh Cinta, Ingin Ku Miliki kurang lebih mempunyai nuansa yang sama. Lagu yang pernah dibawakan oleh Ruth Sahanaya ini menjadi salah satu track yang disajikan ulang dengan manis oleh Tohpati. Rasa haru dan keinginan dalam lagu justru bisa lebih saya rasakan karena interpretasi gitar yang lembut dari Tohpati.

 

Jika kedua track tadi bertempo lambat, track Carnaval dan Kahyangan bergerak lebih cepat. Kombinasi gitar dan orkestra yang saling mengisi bergantian membuat saya mengira ada pengaruh nuansa musik-musik latar dari film-film rilisan Pixar yang ceria dalam kedua track tersebut. Saya tidak mampu menahan kedua ujung bibir saya tertarik ketika mendengarkan dua buah lagu asyik ini.

 

Sedangkan di dua lagu lain, Bahagia dan Forever, Tohpati memainkan tempo sedang. Tempo yang justru berada dalam pusara lirih karena asumsi kita bisa berkembang ke mana-mana. Di satu titik, ada buncahan kegembiraan, namun di titik lain, ada transisi menuju rasa perih yang memang datang satu paket dengan kegembiraan itu sendiri.

 

Hanya track Air Mata saja yang mungkin agak melanggar pakem dengan menyuguhkan aroma yang tak jauh dari kulikan yan pernah ia garap di Instrumental Chrisye by Tohpati. Selain itu, mendengarkan Air Mata bak meluruhkan diri dalam palung kesedihan. Satu-satunya track dengan rasa pahit yang ada di album ini.

 

Forever, untuk saya, adalah memoar, atau barangkali, pembuktian bahwa Tohpati juga lebih dari mampu untuk menjadi seorang pembuat Musik Latar dari sebuah film. Hal yang mungkin jadi satu-satunya tonggak yang belum ia rengkuh selama ia memetik gitar.

Rating 76%

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.