Category Archives: perjalanan

Kampung yang Dibuat dari Pelangi

      No Comments on Kampung yang Dibuat dari Pelangi

Tahun lalu, beberapa anak muda menjinjing kaleng cat ke sebuah perkampungan di Gunung Brintik, Semarang. Mereka meminta izin mengecat beberapa rumah sebagai salah satu proyek kuliah. Kampung yang semula kumuh dan seram karena berbatasan dengan pekuburan terbesar di Asia Tenggara itu, dipulas warna-warni. Imaji menyeramkan yang lama tertabal pun luntur. Melihat warna-warni menghiasi sebagian rumah, Pemerintah Kota Semarang yang kebetulan… Read more »

Wae Rebo: Asyik Bercantik Sendiri

Saya tidak mampu menghitung sudah berapa kali pipi saya tertampar angin pegunungan Manggarai yang sembribit itu. Sial. Pakaian yang saya kenakan tak tebal-tebal amat. Sementara, malam kian larut dan pendakian masih belum melalui separuh jarak. Mau tak mau, saya harus menerima udara yang membawa bonggol-bonggol dingin itu sebagai teman perjalanan hingga tiba di Kampung Wae Rebo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur. “Capek juga,… Read more »

Memainkan Mimpi-Mimpi di World of Ghibli

Tidak banyak film animasi yang bisa memenuhi prasyarat sebuah mutu baik: mampu bercerita dengan indah dan memenuhi ruang hati penontonnya dengan perasaan yang berwarna. Dari sedikit film yang bermutu baik itu, film-film produksi Studio Ghibli adalah sebagian yang punya posisi tak tergoyahkan. Mereka, secara konsisten, menyajikan film-film animasi yang bisa memberikan nuansa hangat di dada. Saya sendiri tidak terlampau ingat… Read more »

Dari Sepucuk Pagi di Sungai Kuin

      No Comments on Dari Sepucuk Pagi di Sungai Kuin

Menyesuaikan diri akibat perpindahan bagian waktu mungkin akan selalu menjadi soal yang tak bisa saya atasi. Bergeser satu jam saja, pola tidur saya sudah rusak. Apalagi jika bergesernya jauh lebih banyak. Perlu beberapa hari untuk membuat metabolisme tubuh kembali wajar sehingga mulut bisa mengkremus serta perut juga bisa murus-murus dengan khidmat serta lancar. Makanya, saat diharuskan bangun pada pukul 04.00 WITA, saya… Read more »

Nyoto Roso: Sisa Pertaruhan Para Penjaja Penganan di Pantura

Jarum jam baru saja berlari dari angka 12. Sayup-sayup, gema lapar menguar di udara. Cuaca Batang, kota kecil di garis pantura, mengirimkan keroncongan langsung ke perut orang-orang. “Nanti siang makan di Nyoto Roso ya, ayamnya enak,” Istri saya memberi tanda kalau perutnya juga ikut berontak dan minta diisi. “Jauh nggak dari sini?” “Lumayan. Deket perbatasan Batang-Kendal.” Duh, Gusti. Mobil kami baru… Read more »

Mengerat Senja di Pelabuhan Sunda Kelapa

Matahari belum surut dan sore belum begitu rapi waktu saya beranjak ke arah utara. “Kalau Jakarta sedang tidak panas dan jalanan juga sedang tidak ramai, pergilah ke Pelabuhan Sunda Kelapa”, kata seorang teman. Ia mengucapkannya beberapa bulan lalu. Tetapi, baru sore ini saya bisa menggelandang diri ke sana. Kebetulan, hari sedang libur dan sengatan matahari seperti remaja yang kali pertama… Read more »

Ugal-ugalan Memakan Ikan Goropa di Padapu

Sebenarnya kami percaya saja ketika rekan kami, Rahman Duwingik, bilang bahwa perjalanan ke Ampana, Tojo Una-Una, bakal santai. Dari balik kemudi, Rahman berkata kalau ia sedang tidak ingin kebut-kebutan di jalan Trans Sulawesi. Terlebih, tidak ada yang kami kejar hingga beberapa jam ke depan. Penugasan di sana baru mulai esok dan Ampana, mengutip kelakar yang dulu pernah dianggap lucu, juga… Read more »

Yang Bukan Jazz di Festival Java Jazz

Sore itu, si lelaki muda memilih setelan jas dibandingkan kemeja batik. Padahal, rekan-rekannya bersetia dengan kostum manggung seperti biasa. Mungkin karena ini adalah festival jazz terbesar di belahan bumi selatan, ia ingin memberi kesan berbeda, pikir saya. Tapi, selain jas, dandanannya sama belaka. Ia masih meminyaki rambut dan menyisirnya ke belakang. Juga matanya yang tampak tak bisa dibuka lebar-lebar itu…. Read more »

Java Jazz yang Selalu Dekat

      4 Comments on Java Jazz yang Selalu Dekat

Gerombolan kami berjumlah empat orang. Mas Yoyon, yang paling senior di antara kami, menyukai musik sesuai usianya: hits era 80-an akhir hingga 90-an. Niczen, seorang tua berpenampilan remaja, terobsesi pada segala yang berbau Korea, termasuk lagu-lagunya dan keinginan keras menjalani operasi plastik. Lalu Lucki, remaja tanggung yang lebih suka lagu indie daripada lagu India. Dan tentu saja saya, penikmat pop… Read more »

Menjejak Blauran, Melihat Klandasan

Di dalam mobil itu, mulut saya tiba-tiba menyalak seperti anjing yang sedang berseru-seru. Saya terkejut, tentu saja, setidaknya pada dua hal: keluwesan saya mengabsen nama-nama binatang, dan pada sumpah serapah itu sendiri. Tidak biasanya saya lancar mengumpat ketika mengemudi. Apalagi permasalahannya sepele: salah menggeser tuas lampu sen. Mungkin benar belaka kalau saya kelabakan akibat terlalu bersemangat, atau terlalu waswas karena tawaran… Read more »