Category Archives: esai

Musik Terbaik dari Samurai X

      No Comments on Musik Terbaik dari Samurai X

Sekitar lima belas tahun silam, (Keparat! Deretan kata ini membuat saya merasa tua betul) kala hidup masih terasa baik-baik saja dan kegamangan terbesar adalah bagaimana menghindar dari tugas mengepel lantai saban harinya, film kartun menjadi sarana pelepasan terbaik. Setiap sore, setelah berletih-letih mengaji dan bibir menjadi kering akibat mengucap huruf-huruf dari jazirah asing, saya akan memaku pandang kepada televisi dan… Read more »

Kampung yang Dibuat dari Pelangi

      No Comments on Kampung yang Dibuat dari Pelangi

Tahun lalu, beberapa anak muda menjinjing kaleng cat ke sebuah perkampungan di Gunung Brintik, Semarang. Mereka meminta izin mengecat beberapa rumah sebagai salah satu proyek kuliah. Kampung yang semula kumuh dan seram karena berbatasan dengan pekuburan terbesar di Asia Tenggara itu, dipulas warna-warni. Imaji menyeramkan yang lama tertabal pun luntur. Melihat warna-warni menghiasi sebagian rumah, Pemerintah Kota Semarang yang kebetulan… Read more »

Berkas Panama dan Gombalnya Kapitalisme Global

“SAYA ingin kejahatan ini terpublikasi.” Pesan itu diterima Bastian Obermayer pada akhir 2014. Saat itu Suddeutsche Zeitung, surat kabar tempat Obermayer bekerja sebagai reporter, sedang menyelidiki beberapa dokumen Mossack Fonseca yang bocor ke tangan pemerintah Jerman. “Namun ada beberapa syarat. Hidup saya dalam bahaya. Kita hanya akan berbicara melalui pesan terenkripsi. Tidak ada pertemuan sama sekali.” “Seberapa besar data yang… Read more »

Busana adalah Identitas

      3 Comments on Busana adalah Identitas

Sekurang-kurangnya, dua stel kemeja berwarna biru-muda-agak-tua-sedikit-yang-memiliki-kode-pantone-658c pasti selalu tersedia di lemari setiap PNS Kementerian Keuangan. Soalnya, peraturan perklambian menegaskan betul kalau PNS Kemenkeu harus mengenakan kemeja itu, berpadu dengan bawahan biru tua, saban Rabu. Maka, haram hukumnya para PNS ini, termasuk saya, kalau hanya memiliki satu stel saja, apalagi tidak punya. Selain bakal dipandang dengan mata yang terpicing, tidak mengenakan… Read more »

Atap

      2 Comments on Atap

Senyumnya selalu mengembang ketika kepala saya melongok dari pintu yang setengah terbuka. Ia seakan tertawa, tetapi tanpa gelak. Hanya gigi-gigi mungilnya yang bergeletuk menyambut saya, ayahnya, kembali ke Semarang setelah meninggalkannya pada hari-hari kerja. Di sela senyum, ia selalu memanggil jabatan dan nama depan saya: “Ayah Meidiawan”. Lalu, peluk-peluk pun berhamburan. Dia dan saya tidak pernah kikir dalam merayakan kebahagiaan… Read more »

Fast Fashion adalah Kegelapan Kita

Tiada yang menyangka kalau April yang cerah di Dhaka seketika berubah muram saat Rana Plaza, sebuah gedung 8 lantai di pusat kota, amblas dan menewaskan 1134 orang serta melukai sekitar 2500 lainnya. Tangis dan duka pun meruap ke mana-mana. Hari itu, pada awal 2013, musim yang tadinya panas pun basah jua. Bukan karena rintik hujan, melainkan oleh air mata. Sementara,… Read more »

Apriani

      No Comments on Apriani

Kita memang mudah “gumun” dengan remaja yang, katakanlah, melampaui zamannya. Lihat saja penduduk jagad maya yang semingguan terakhir terus membahas Afi (bukan singkatan dari Akademi Fantasi Indosiar), pemudi yang status media sosialnya selalu ramai, dan Naufal, pemuda penemu listrik dari pohon kedondong. Afi dibahas karena status facebooknya. Lewat jejaring sosial mirik antek yahudi amrikkiyah itu, Afi menerbitkan pertanyaan-pertanyaan kritis yang… Read more »

Sati, Jihad, dan Mereka yang Mendatangi Kematian

sebuah tanya tentang kematian  Meskipun suaminya telah tiada, Dewi Anggraini tetap bergeming terhadap rayuan Arjuna. Ia lebih memilih melakukan bela pati, mengakhiri nyawanya sendiri, daripada menjadi istri Sang Lelananging Jagad. Anggraini mengikrarkan cintanya hanya kepada Ekalaya. Cinta yang juga membawanya tumpas dalam janji sehidup semati berbalut kesetiaan. Apa yang ada di pikiran Dewi Anggraini tatkala memutuskan untuk menemui maut yang… Read more »

Untuk Kamu yang Begitu Dekat Namun Seakan Begitu Jauh

sebuah tanya tentang kematian supaya ridla menerima segala tiba Untuk sesuatu yang begitu dekat intaiannya, kematian sering menjadi sebuah hal yang teramat asing. Bukan hanya karena kita tidak ingin mengenalnya, melainkan juga karena kita tidak mampu mengenalnya. Raut kematian serupa kegelapan senyap atau ketiadaan hakiki. Di dalamnya tinggal sebuah tanya yang gamang. Tanya seluas segara kehidupan yang melengkung, namun tidak… Read more »

Didik

      2 Comments on Didik

Orang Yunani kuno biasa mengisi waktu luang mereka dengan mengunjungi sebuah tempat atau seseorang yang telah diakui kepandaiannya. Mereka datang untuk bertanya tentang aneka persoalan, baik terkait dengan ilmu praktis atau mistis. Aktivitas beranjangsana serta bertanya ini mereka namai dengan istilah skhole, scola, scolae, atau schola. Empat lema tersebut memiliki definisi sama: “waktu yang digunakan untuk belajar”. Jauh sebelum aktivitas… Read more »