Berhati milik Saldi: Suguhan Hati-Hati yang Menusuk Hati

Hujan yang brengsek masih menyalak di balik jendela saat saya menekan tombol play pada lagu “Nyala”. Ini sudah hari kesekian sejak pertama kali saya mendengarkan album penuh dari Sal Priadi “Berhati” dari awal hingga akhir. Entah kenapa, saya masih sering merasa geram dengan bagaimana cara ia “merayakan cemburu yang sedang ganas-ganasnya” dengan pekikan nyeri diiringi suara percik api.

Saldi (biarkan saya menyebutnya seperti ini saja) akhirnya menelurkan sebuah proyek yang tak main-main: sebuah album penuh. Sebuah ejawantah yang saya apresiasi karena merilis album, alih-alih EP, adalah jalan ninja yang belakangan sulit saya temui dari musisi solo. Maaf ya, Ardhito dan Rendy Pandugo. Terlebih, album penuh dari Saldi ini terasa segar dan menggemaskan di telinga. Melebihi ekspektasi saya, yang sempat saya tumpukan pada Bilal Indrajaya juga –dan gagal dipenuhi oleh album solonya.

Berhati dimulai dari bisikan-bisikan kecil Saldi di lagu “Nyala”. Buat saya, lirih suara Saldi yang diiringi oleh piano yang berdenting dan nadanya berjarak cukup jauh adalah pondasi yang kuat bagi keseluruhan album. Ia tidak muluk-muluk menggeliatkan rasa cemburu yang besar di awal, namun kelirihan prasangka yang terpendam. Ketika barisan string section masuk, maka rasa amarah itu seolah meledak dan menebalkan kengerian cinta yang ditaburi di atas lirik “Aku ingin jadi jantungmu//Dan berhenti semauku//Agar kau tahu//Rasanya hampir mati//ditikam patah hati.”

Setelah itu, Saldi mengubah tema dan musik dengan menaruh “1-2 Cha Cha”. Berbeda dengan nyala yang melantun pelan berselimut amarah, “1-2 Cha-cha” didendangkan dengan cukup manis meskipun notasi minor diubek-ubek dari awal hingga akhir lagu. Yang unik dari lagu ini adalah nuansa salsa retro yang menitih di sekujur lagu. Meskipun lagunya cukup mesra dengan “Adakah kasih// kasih yang bisa kupetik//Petik darimu// kusimpan simpan selamanya”, saya tidak bisa melepaskan insting pembantaian yang bisa dengan paripurna diinisiasi dengan lagu ini. Jika ada seorang sutradara membuat sebuah adegan dansa yang berujung darah berlatar lagu ni, sungguh saya tidak heran.

Lagu ketiga dari album “Berhati”, “Malam-malam, Ubud”, masih memainkan tema yang sama dengan “1-2 Cha-Cha”, tentang keindahan dan kebersamaan cinta dari dua orang. Bedanya adalah “Malam-malam, Ubud” dimainkan lebih pelan dan menyeret daripada “1-2 Cha-cha” yang rancak. Walaupun demikian, aroma pembunuhan tidak terungkap saat saya mendengar lagu ini. Pilihan Saldi untuk memainkan piano sebagai penutup lagu malah membuat saya mengira lagu ini adalah pengantar foreplay yang khidmat setelah gairah membara diuarkan di sepanjang lagu.

“Di Timur” yang menjadi track keempat adalah favorit saya di album ini. Buat saya, lagu ini adalah sebentuk manis yang cukup. Kisah tentang kerinduan yang mengaduk hati ketika hujan sementara belahan jiwa tidak bisa menenggang sebuah jarak mungkin terdengar klise. Tetapi, Saldi mengukur jarak itu dengan pas, lewat “Katamu kautemukan// Kedai es krim yang lucu// Ingin kau ajakku ke sana// Tapi tak bisa segera// Telefon percuma// Kartu pos juga// Belum cukup canggih// ‘Tuk mengirim rasa// Jauh ke kotaku”. Lirik yang semanis itu diteguhkan dengan suara Saldi yang berderak tangguh membuat saya, mau tak mau, memuji cara Saldi menyatakan kerinduan yang seringnya tengik itu.

Empat lagu setelahnya adalah lagu-lagu yang sudah lebih dahulu malang melintang di platform musik digital sebagai single Saldi. “Melebur Semesta” adalah kisah percumbuan yang sungguh brengsek. Bisa-bisanya Saldi menggambarkan persenggamaan yang banal itu dengan bungkus yang cantik dan saya mengaguminya begitu saja.

“Kultusan” tampil sebagai persimpangan antara jejak kebencian atas dusta dan ketidakbisaan untuk melepaskan. Bagaimana, misalnya, kamu tidak bisa sepenuhnya mempercayai seseorang tetapi juga tidak bisa pergi dari orang tersebut. Kamu hidup memeluknya yang menikamkan pisau ke mata jantungmu sementara kamu tak sanggup melepaskan? Alhasil kamu pun harus berdamai dengan kata-kata “hingga mengingkarimu adalah hal yang mustahil”.

Dua lagu berikutnya jelas tidak asing. “Ikat aku di tulang belikatmu” dan “Amin Paling Serius” adalah dua tembang yang membuat nama Sal Priadi diperhitungkan sebagai penyanyi solo pria terbaik Indonesia. Persamaannya adalah kedua lagu tersebut masuk ke dalam nominasi Anugerah Musik Indonesia masing-masing pada tahun 2018 dan 2019. Mungkin, kedua lagu inilah pondasi visi bermusik Saldi yang kemudian diejawantahkan penuh ke dalam album “Berhati”. Saldi menjumput string section, tempo, dan piano sebagai pengiring hamper semua lagu pada album debutnya ini.

Dan tiga komposisi terakhir dalam Berhati, bagi saya, sangat cukup untuk menutup rangkaian komposisi yang dijlentrehkan Saldi sepanjang lagu. Jika “Dalam Diam” memutarbalikkan nuansa gelap yang menyeluruh di setiap lagu, “Jelita” menjadi track penutup yang cukup mengguratkan senyum. Ia melantun dengan halus dengan pujian-pujian kecil bagi seorang kekasih.

Secara utuh, saya menyukai debut album dari Saldi. Sederhananya, saya sendiri bahkan cukup bingung untuk melabeli genre bagi satu album ini. Di satu titik, ia terasa seperti pop. Tetapi, di titik yang lain, ia terasa seperti amarah yang lebih dekat kepada rock.

Namun, campuran ini yang membuat album Berhati terasa unik. Saya pun bisa memaklumi mengapa Saldi tidak memasukkan single “Jangan Bertengkar Lagi Ya? Ok? OK!” dalam album Berhati. Komposisi yang lebih jazzy jelas tidak senada dengan aroma pop-gelap (atau katakanlah saja begitu) yang terus-terusan dipahat Saldi di tubuh album.

Maka, meskipun tahun 2020 ini bakal panjang. Saya bisa bilang kalau album “Berhati” dari Saldi adalah salah satu hidangan terbaik yang bisa terus dinikmati sepanjang tahun. Terlebih, Saldi sendiri lebih dari ciamik dan hati-hati memilih materi mana yang bisa berjingkat menusuki hati.

2 Replies to “Berhati milik Saldi: Suguhan Hati-Hati yang Menusuk Hati”

  1. Anonymous says:

    Entah mengapa, di beberapa lagu yang telah disusun ulang oleh Mas Saldi di Berhati, saya lebih suka yang edisi lamanya. Mungkin saja karena belum bisa berpaling(?)

    Reply
    1. iz says:

      ngomong-ngomong, selamat kembali. 2019 sepertinya tahun yang terbilang sangat sibuk ya? hingga tak sempat menulis barang satu artikel di blog ini. 😛

      Reply

Leave a Reply to iz Cancel reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.