Author Archives: Meidiawan Cesarian Syah

Payudara

      No Comments on Payudara

Dengan mahar 40 hingga 50 juta rupiah, seorang perempuan dapat mengubah bentuk payudaranya secara permanen. Harga tersebut adalah jumlah mahar yang harus ditebus untuk dapat melakukan operasi payudara di Indonesia. Variasi mahar yang perlu diimpaskan berbeda-beda di setiap tempat tergantung fasilitas yang diperoleh pasien implantasi payudara dan kerumitan prosedur operasi yang akan dilaksanakan. Pada tahun 2014,  American Society of Plastic… Read more »

Gula Kacang

      3 Comments on Gula Kacang

“Sedoso Mas, niku angsal selangkung” (Sepuluh ribu Mas, dapat 25 buah) “Nggih, Pak. Kulo tumbas sedoso ewu, nggih“ Bapak tersebut mengambil plastik bening dari bawah bakulnya. Ia mulai memasukkan satu per satu gula kacang ke dalamnya. “Pak, saking jam pinten wonten menika ?”, Saya bertanya sejak pukul berapa ia datang di tempat ini. “Sediluk Mas, kula tak ngitung sek ya”… Read more »

Sakramen

      1 Comment on Sakramen

untuk istriku yang berulang tahun ke-25 Ketika Karen Armstrong mengisahkan sebuah fragmen pernikahan Rasulullah SAW dengan Ummu Salamah dalam buku “Muhammad: The Prophet of Our Time“, mungkin beberapa dari kita akan mengernyitkan dahi. Dalam fragmen itu, dikisahkan Ummu Salamah yang mula-mula enggan menikah dengan Rasulullah karena beliau sangat mencintai suaminya yang baru saja mati syahid. Namun, ketika Muhammad tersenyum dengan… Read more »

Mundur

      4 Comments on Mundur

Richard Lloyd Parry dalam bukunya In Time of Madness menyebut bahwa akhir dari orde baru terasa seperti seks tanpa orgasme. Momen yang seharusnya menjadi titik tolak dari pangkal segala kebobrokan negara selama lebih dari tiga dasawarsa menjadi kisah yang melempem. Titik itu berlangsung alakadarnya, sangat biasa, dan antiklimaks. Dalam nada yang lebih pahit, ia menyebut momen tersebut sebagai momen historis yang… Read more »

Sunyi Menyanyi pada Pagi

      1 Comment on Sunyi Menyanyi pada Pagi

Jendela-jendela pun sunyi Menangkap kelam kali Yang kering, yang terasing Jauh dalam kerak musim (Goenawan Mohamad – Catatan-catatan Jakarta) Kadang, saya merasa sangat sunyi dalam menyambut pagi. Terbangun lebih awal dari deru azan di pagi yang begitu sepi. Menemui jalanan lengang, langit temaram. Saya berusaha memohon agar matahari muncul saja tanpa perlu menyiakan waktu terbit. Di waktu ini pula, jika… Read more »