Yang Habis

      12 Comments on Yang Habis

Saya sering memandang dunia ini adalah panggung permainan dan senda gurau. Tawa harusnya abadi, kesedihan harusnya fana. Makanya, dunia bagi saya adalah tempat tertawa sepuas-puasnya (maafkan aku, Sapardi).

Tetapi, seperti permainan, saya tidak melulu menang. Terutama dalam menebak bahwa dunia selalu berisi hal-hal yang kita harapkan. Saya seringkali kalah dan menawan kesedihan dalam diam, sambil berharap bahwa apa yang saya rasakan harusnya fana. Karena, bagi saya, tertawalah yang harusnya abadi.

Tetapi, juga seperti permainan, saya pun mengenyam kekalahan jua. Sudut mata saya terhadap dunia salah belaka. Ternyata, dunia memang punya bermacam-macam luka yang ia genggam dan bagikan seenaknya. Saya pun akhirnya adalah bagian kecil dunia: menggenggam luka namun tak bisa membagikannya.

Luka-luka itu sedemikian dalamnya hingga saya terlambat menyadari kalau ia terlalu dalam untuk dapat ditimbun. Terlalu besar untuk dapat ditutup. Ketika sadar, saya sudah berada jauh di bawah untuk bisa merangkak naik. Sudah mampat di dasar untuk hanya sekadar siuman dan bangun kembali.

Saya membutuhkan bantuan orang lain. Saya menghubungi semua orang yang saya kira bisa membantu saya, untuk setidaknya bangun dan merakit tangga. Saya harus bisa sembuh. Saya harus bisa melakukan perjalanan jauh. Saya harus menemui diri sendiri yang takluk diterjang kekalahan demi kekalahan. Sebab, kau tahu, luka yang paling dalam justru dibuat oleh seseorang yang paling dekat denganmu.

Oleh karena itu, saya memutuskan untuk menutup mata rantai luka itu. Saya, dalam keterpurukan, kehancuran, ketidakpercayaan diri yang berat, harus menghadapi pahitnya dihajar kasunyatan. Saya berkelahi, meminta maaf, berkelahi, dan meminta maaf kembali, sampai di satu titik saat saya merasa harus menggagalkan diri sendiri.

Saya, di usia pernikahan yang ke-4 ini, menyepakati pada diri sendiri bahwa saya harus berhenti menganyam perban pada luka-luka yang telah kami enyam. Saya merasa bahwa kami harus menghentikan perilaku untuk menoreh luka secara berbalasan. Soalnya, perbuatan kami sudah memakan korban lebih dari diri kami sendiri.

Pertikaian ini menghancurkan apa yang selama ini kami jaga baik-baik hingga hampir tak bersisa. Tidak ada kepercayaan, tidak ada harapan, dan depresi berkepanjangan adalah buah dari pohon perbuatan yang tidak sadar sudah kami tanam. Berat memang. Tetapi kami, atau setidaknya saya, juga tidak ingin dua buah hati kami, yang selalu kami tiupkan uap-uap doa, juga menjadi korban keganasan luka yang saling kami pahat di depan mereka.

Saya mengajukan untuk memutus mata rantai ini dan menawarkan agar Putri bisa menerimanya dengan lapang dada, meskipun saya sadar bahwa di dirinya masih ada sisa-sisa cinta. Saya jelaskan sebaik mungkin bahwa ada perbedaan yang tak bisa ditenggang, dan ada jurang yang tak terjembatani.

Saya memintanya bersepakat untuk jatuh dan memulai kembali (meskipun sepakat juga sebuah kata yang jauh). Tidak secara bersama-sama, tetapi dengan sendiri-sendiri. Putri akan memulai kehidupan baru. Saya juga. Tetapi kami tidak akan lagi bersama, kecuali tentang bagaimana membesarkan si cantik Adhisti dan si tegar Malaka. Kami berjanji bahwa nyawa dan darah kami tak akan putus untuk mereka.

Tidak mudah memang menjalani keputusan ini. Oleh karena itu, saya mengharap bantuan teman-teman terdekat untuk mendukung kami. Putri harus didukung untuk tetap tegar. Saya juga perlu didukung untuk bisa kembali bugar. Saya mengajak siapapun yang mengenal kami untuk menguatkan dan membersamai, menemani dan memberikan solusi.

Kami tidak ingin berlarut dalam kesedihan walau kini, dunia yang kami kenal hanya berisi hal itu. Kami harus bisa menjalani apa yang kami pilih sambil berpegangan terhadap apa-apa yang bersisa.

Kami butuh bantuan teman-teman untuk membuat kami kuat serta membuat kami kembali percaya bahwa dunia ini adalah tempat tawa harusnya menjadi abadi, dan kesedihan menjadi fana belaka.

Salam dari jurang terdalam tempat saya hancur dan berharap dapat memulai kembali di asa yang lain.

Pada 16 Januari 2018, kami berdua menemui konselor pernikahan, Endang Sri Indrawati, M.Si, untuk mediasi dan mencari jalan keluar terbaik. Ibu Endang menganjurkan kami untuk berpisah secara baik-baik. Saya dan Putri sama-sama menerimanya lalu kemudian menenangkan diri dalam menjalani keputusan ini. Kami sepakat, tapi kami tahu bahwa kami juga harus menelan cekat yang melingkupi keputusan ini.

@meidiawancs instagram

Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.

12 thoughts on “Yang Habis

  1. ARH

    Semoga Allah ta’ala senantiasa menjaga kalian berdua, bersama dua buah hati tercinta, dan kuat menapaki jalan yang berbeda, demi kebaikan tentunya.

    Reply
    1. H8

      The things you want in life
      Come and go so easily?
      Sampeyan saya percaya masih bisa bertahan dan mempertahankannya mas Med

      Reply
  2. grey

    dulu hampir se grup mersa kehilangan salah satu saudaranya ini, tp smua kembali bahwa tiap.org punya pendirian, cara pandang yg berbeda dan penghormatan yang berbeda juga sehingga kami berkesimpulan kita dukung dari jauh saja. Kami atau mgkn saya sendiri skrg hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian, smoga apa yang telah diputuskan ke depan tetaplah dan selalu menjadi terbaik, karena kalian lah yang menjalani. Semoga kalian sll bisa.membesarkan 2 buah hati kalian dengan baik nantinya. Dibalik keputusan yang besar, ada orang yg mempunyai hati yang besar dan berani mengambil keputusan.
    Kalau ada yg bs kami bantu, jgn sungkan2 menghubungi salah satu dari kami. #tuc08176698619

    Reply
  3. Earth

    Kami yakin kamu sudah berjuang….Kami yakin kamu juga tak pernah berupaya….Kami yakin kamu juga pernah menjaga agar tetap berdiri semuanya….Dan kami yakin kamu pernah melepaskan semua egomu demi buah hatimu….Lalu kami bisa apa? ….
    Kami hanya bisa yakin bahwa kami masih temanmu, dan masih sahabatmu….yang akan selalu memohonkan kebaikan untukmu…

    Jangan lelah berdoa….karena doa mu lah obatmu….
    *EmakEarth*

    Reply
  4. Putri

    Saya, istri Meidiawan Cesarian Syah, sebelumnya mohon maaf apabila nanti ada kata2 yg kurang berkenan.

    Ini bukan keputusan kami, tapi keputusan suami saya. Dan ini cerita tentang suami saya, yg sy minta tolong tidak disangkutpautkan dengan Saya dan anak-anak.

    Tidak ada “kami” dalam tulisan ini, tidak ada “usaha kami” sebelum suami memutuskan ini. Dan tidak ada pertimbangan anak-anak dalam keputusan ini. Semua murni keputusan suami agar depresinya bisa sembuh.

    Saya mohon doa dari rekans sekalian agar kami diberikan yg terbaik. Apapun keputusannya, semoga tidak ada orang lain lagi yg depresi baik saya maupun anak-anak.

    Terimakasih

    Reply
    1. awang

      banyaklah berdoa mbak, jika kita tetap percaya dan yakin kepada Allah, maka ini hanyalah ujian dunia, dunia ini hanya sementara, maka bersabarlah, niscaya pahala yang luar biasa bagi istri2 soleha yang bersabar,,, insyaAllah surga menantimu kelak, aamiin

      Reply
  5. awang

    terkadang, sesuatu yang indah akan terlihat kabur dan semu dinata kita, karena kita mengabaikan keberadaannya…
    ingatlah semua yg kita miliki didunia ini hanyalah titipan sang Pencipta, termasuk nyawa kita bukanlah milik kita sendiri…
    Jagalah apa yg Tuhan titipkan kepadamu, disitulah bentuk dan wujud Tuhan mempercayaimu…

    Reply
  6. awang

    sebuah bunga akan mekar indah jika dirawat pemiliknya,,,
    jika bunga menjadi layu dan hancur maka itu salah pemiliknya,,,
    jika bunga lepas dari genggaman, mungkin karena kita tidak cukup layak untuk memilikinya,,,
    siapa bunga? siapa pemiliknya?
    yang sanggup memilikinya adalah hati yang luas dalam bersabar, yang dalamnya berisi cinta dan kasih sayang,,,

    may God always bless us

    Reply
  7. Fettuccine

    One day you will look back at the most difficult times of your life and you will smile at how you got through them and how you grew through such experiences.
    But Allah knew from the beginning that you were able to get through it as Allah promised not to test any of us beyond our abilities.

    Semangat ya, mas.
    Leave behind anything or anyone who stresses your heart out. Karena tidak ada yang lebih membahagiakan selain ketenangan jiwa.

    Reply
  8. Meidiawan Cesarian Syah Post author

    closure

    Pada 16 Januari 2018, kami berdua menemui konselor pernikahan, Endang Sri Indrawati, M.Si, untuk mediasi dan mencari jalan keluar terbaik. Ibu Endang menganjurkan kami untuk berpisah secara baik-baik. Saya dan Putri sama-sama menerimanya lalu kemudian menenangkan diri dalam menjalani keputusan ini. Kami sepakat, tapi kami tahu bahwa kami juga harus menelan cekat yang melingkupi keputusan ini.

    Maka, sejak saat ini, kami memulai langkah untuk menjalani hidup bersendiri-sendiri, kecuali soal anak, darah daging kami.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.