Kampung yang Dibuat dari Pelangi

      No Comments on Kampung yang Dibuat dari Pelangi

DSCF7767

Tahun lalu, beberapa anak muda menjinjing kaleng cat ke sebuah perkampungan di Gunung Brintik, Semarang. Mereka meminta izin mengecat beberapa rumah sebagai salah satu proyek kuliah. Kampung yang semula kumuh dan seram karena berbatasan dengan pekuburan terbesar di Asia Tenggara itu, dipulas warna-warni. Imaji menyeramkan yang lama tertabal pun luntur.

Melihat warna-warni menghiasi sebagian rumah, Pemerintah Kota Semarang yang kebetulan sedang melakukan pemugaran Pasar Bunga Kalisari di depan Kampung Gunung Brintik, mengambil kesempatan melakukan pengecatan besar-besaran. Lebih-kurang 325 rumah dijadikan kanvas, yang kebetulan sejalan dengan rencana Pemkot membuat aneka kampung tematik. Untuk kampung di daerah Kalisari itu, tema yang diberikan adalah warna-warni. Untuk selanjutnya, kampung ini lebih dikenal sebagai Kampung Pelangi.

Selanjutnya, terjadilah yang telah kita ketahui bersama: gegap gempita Kampung Pelangi di Kalisari, Semarang. Kampung kumuh itu bermetamorfosis menjadi objek wisata bertaraf nasional. Beberapa pranala dari media luar negeri malah menyajikan berita Kampung Pelangi dengan kata-kata puitis: seperti desa yang dimandikan oleh napas Unicorn-nya Lisa Frank atau tersentuh tongkat penyihir permen karet Si Fruit Stripe.

DSCF7782

Kampung Pelangi Semarang semakin terkenal. Banyak orang berkunjung sembari, tentu saja, mengabadikan foto diri. Lewat instagram—media sosial yang popularitasnya menggila dalam dua tahun terakhir, foto-foto itu dibagikan dan membuat orang lain punya keinginan serupa: berkunjung dan mengabadikan foto diri di Kampung Pelangi—begitu seterusnya sampai Randublatung jadi ibukota Jawa Tengah.

***

Selain simbol hubungan sesama jenis, cinta dan perdamaian, persatuan atas keberagaman, pelangi juga jamak dipilih sebagai tema revitalisasi kampung yang semula kumuh. Sebenarnya, warna yang dihasilkan dari pengecatan sih tidak pelangi-pelangi amat. Cenderung ke warna-warna yang saling menabrak. Namun, warganet memang punya otoritas sendiri untuk menyebut apa pun seenak udelnya. Kita hanya bisa mengangguk setuju.

Termasuk ketika Kampung Pelangi menjadi viral dan diasosiasikan dengan Semarang. Sudah sepatutnya warga kota Semarang mengacungkan empat jempolnya pada warganet. Soalnya, revitalisasi kampung warna-warni sebetulnya bukan hanya monopoli Semarang. Beberapa daerah lain juga memiliki kampung dengan konsep serupa.

Puluhan kilometer dari Semarang menuju selatan, misalnya, ada Kampung Kali Werno. Kampung ini terletak di Desa Bejalen, Ambarawa. Dalam bahasa Jawa, kali berarti sungai, dan werno (atau werna) berarti warna. Kali Werno memang dibelah oleh Sungai Kalipanjang, dan setiap sudutnya dicat warna-warni. Dari jembatan hingga perumahan warga dijamin instagramable. Yang nisbi membedakan dengan “kampung pelangi” lain adalah kebersihan lingkungan yang teramat diperhatikan.

Di Malang, ada Kampung Jodipan yang berada di bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Sekitar 107 rumah yang seolah tumpuk-menumpuk itu, begitu indah dengan komposisi warna seperti lukisan bergenre pop art. Namun, yang lebih penting lagi, kampung ini juga menjadi simbol perlawanan warga terhadap ancaman penggusuran, baik oleh negara maupun kapital.

Selain Jodipan, Malang juga punya Kampung Tridi. Nama aslinya adalah Kampung Tumenggungan Ledok, sedangkan nama Tridi sendiri berasal dari pelafalan Three-D (3D, tiga dimensi). Tembok-tembok di kampung ini dipenuhi gambar-gambar tiga dimensi, yang konon tak kalah apik dibanding gambar-gambar di Kampong Glam, Singapura. Pantas saja jika Tridi menjadi atraksi wisata yang sangat digemari.

Masih satu provinsi dengan Malang, Banyuwangi punya kampung warna-warni di tepian Sungai Kalilo, Kelurahan Singonegaran. Sementara di Kalimantan, ada Kampung Pelangi Banjarbaru. Sumatera juga punya dua kampung berdekatan dengan konsep yang mirip, yaitu di Kelurahan Linggau Ulu dan Kelurahan Uluk Surung.

***

DSCF7834

Seperti Kampung Pelangi Semarang, kampung-kampung lain yang juga menjelma pelangi rata-rata berawal dari revitalisasi. Kampung yang sedianya kumuh dan seringkali mengganggu fungsi ekologi, diubah dengan wajah baru yang sepenuhnya berbeda.

Tidak hanya persoalan mengecat dinding, perubahan ini juga mengenai corak ekonomi dan kultural penduduknya. Dari segi ekonomi, perubahan yang dilakukan adalah meningkatkan wawasan ekonomi penduduk dengan menjadikan kampung sebagai objek wisata. Seiring dengan bertambahnya pengunjung, ekonomi penduduk juga semakin menggeliat.

Pelan-tapi-pasti, peningkatan pengunjung mengubah kultur penduduk. Mereka mau-tidak-mau sering berinteraksi sehingga mengakibatkan akulturasi budaya.

Dan hal terpenting dari perubahan tersebut adalah bagaimana membentuk kesadaran masyarakat terhadap ruang kota yang mereka tinggali. Kampung-kampung yang bertransformasi menjadi pelangi, selain nyaman dipandang mata, juga memberi pilihan bagi penduduk untuk menafsir ulang tempat tinggalnya. Penduduk bisa saja tidak puas dengan ruang-ruang yang mereka tempati. Namun, bukan berarti tidak bisa berbuat apa-apa dan menyerah pada keadaan.

Kampung pelangi di mana pun, hampir selalu tentang keterlibatan dan keberpihakan. Perubahan yang melibatkan peran aktif penduduk demi kepentingan mereka sendiri, berarti juga memberi kesempatan kepada kota yang selama ini dikooptasi oleh kepentingan industri. Kesempatan itu, walaupun sederhana, kembali membuka ruang-ruang partisipatif penduduk untuk bergerak bersama membenahi diri.

Kota yang lebih nyaman ditinggali, celah-celah ekonomi baru dapat terbuka, dan kembalinya fungsi ekologis tanpa harus menggusur dengan bermacam dalih seperti normalisasi sungai maupun penertiban tata kota.

Maka, demam mengubah kampung menjadi pelangi tidak hanya soal gincu agar kompatibel dengan instagram. Mengubah kampung berarti mengubah kultur dan taraf hidup manusianya, dengan sedikit tambahan keinginan lain: mengembangkan harap dan mengubah nasib. Bergerak bersama. Berpihak dan terlibat. Sebuah revolusi kecil untuk memanusiakan manusia.

@meidiawancs instagram

Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.

Leave a Reply

Your email address will not be published.