Memainkan Mimpi-Mimpi di World of Ghibli

Tidak banyak film animasi yang bisa memenuhi prasyarat sebuah mutu baik: mampu bercerita dengan indah dan memenuhi ruang hati penontonnya dengan perasaan yang berwarna. Dari sedikit film yang bermutu baik itu, film-film produksi Studio Ghibli adalah sebagian yang punya posisi tak tergoyahkan. Mereka, secara konsisten, menyajikan film-film animasi yang bisa memberikan nuansa hangat di dada.

Saya sendiri tidak terlampau ingat bagaimana saya mengenal kemudian tertarik menonton film-film animasi dari negeri Sakura ini. Sejauh yang saya bisa gali, Spirited Away (2001) adalah film Ghibli pertama yang menyedot perhatian saya karena ia memenangkan Film Animasi Terbaik di perhelatan Oscar 2003. Di sanalah, saya mengenal sisi lain film animasi Jepang yang bukan diadaptasi penuh dari Manga.

Dari Spirited Away, saya menggali khazanah film Studio Ghibli lainnya, mulai Ponyo on The Cliff by the Sea, Howl’s Moving Castle, hingga film yang melahirkan simbol dari Studio Ghibli itu sendiri: My Neighbor Totoro. Hal yang ajaib adalah setiap kali menyalakan lampu untuk film dari Studio Ghibli, saya merasa memasuki gerbang baru menuju petualangan yang disusun dari warna dan cerita super imajinatif. Ghibli menjauhkan saya dari dunia tempat saya berpijak sekaligus mendekatkannya. Ia berkisah lewat animasi yang jauh dari kesan nyata, namun apa hal-hal yang dikisahkan oleh film-film dari Studio Ghibli justru sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

My Neighbor Totoro, film kebanggaan Studio Ghibli

My Neighbor Totoro, film kebanggaan Studio Ghibli

Film-film garapan Studio Ghibli hampir selalu mengetengahkan cerita tentang keluarga dan pertemanan. Oleh sebab itulah, menonton film dari Studio Ghibli membuat saya kerap merasakan hangat di dada: perasaan yang jarang saya temui ketika harus berhubungan dengan sesama manusia.

Maka, ketika perhelatan eksibisi The World of Ghibli Jakarta resmi dibuka, kehangatan itu pelan-pelan kembali hadir dan merayapi dada saya. Eksibisi Studio Ghibli terbesar di luar Jepang itu menjanjikan kesukariaan sendiri. Impian untuk mengetahui lebih dekat tentang bagaimana Ghibli lahir serta tumbuh besar hingga sekarang seketika dapat terwujud tanpa perlu bertandang ke negara tempatnya lahir. Belum lagi keinginan untuk bisa langsung menyaksikan bagaimana proses kreatif sineas-sineas Studio Ghibli sekaligus berasyik ria merasakan bagaimana hidup di dunia yang terlah dipahat oleh Studio Ghibli lewat film-filmnya.

The World of Ghibli Jakarta diadakan di Ritz Carlton Pacific Place Ballroom dari tanggal 10 Agustus 2017. Saya sendiri baru bisa ke sana pada 14 September kemarin. Pekerjaan menyita harapan dan keinginan saya bertandang cepat-cepat. Untunglah, sesaat sebelum eksebisi diangkut, saya bisa mampir melihat Ghibli lebih dekat.

Ketika pertama kali mengantri masuk ke The World of Ghibli, saya ingin cepat-cepat menyangkal apa yang diutarakan Koji Hoshino, Presiden Direktur Studio Ghibli Jepang, pada saat pembukaan acara. Ia sempat pesimis terhadap exposure Studio Ghibli di Indonesia meskipun ia sendiri masih percaya akan potensi pasar yang ada.

Saya kira Hoshino terlalu menyepelekan kegilaan orang Indonesia terhadap hal yang berkaitan dengan Jepang. Padahal, dengan asal tarik sampel saja, bisa dilihat kalau konsumsi masyarakat Indonesia terhadap aneka komik Jepang sangat tinggi. Belum lagi tentang kegandrungan kita akan film yang menyajikan gradasi busana para pemainnya -salah satunya dibuktikan dengan berita tentang postur followers Hitomi Tanaka yang didominasi oleh penduduk Bekasi-. Selain itu, masih ada kegilaan yang tinggi terhadap idol group JKT48 yang lagu-lagunya adalah terjemahan bebas lagu-lagu berbahasa Jepang yang dinyanyikan grup serupa di sana.

Maka, omongan Hoshino harus ia telan sendiri karena nyatanya segala sesuatu tentang negeri penjajah itu tetap banyak diminati. Hal itu maujud juga di perhelatan Worlf of Ghibli. Sejak awal masuk masuk Ritz Carlton Pacific Place Ballroom, yang tampak di depan mata saya adalah menyemutnya orang yang mendaku penggemar karya Studio Ghibli.

Para pengunjung langsung dijamu dengan sejarah Studio Ghibli ketika pertama kali masuk ke arena eksebisi. Foto dari para tokoh dibalik suksesnya Studio Ghibli seperti Isao Takahata, Toshio Suzuki, juga idola kita semua, Hayao Miyazaki, terpampang di samping runutan kisah tentang bagaimana Ghibli membangun singgasana kesuksesannya sejak film Nausicaä of the Valley of the Wind meledak di pasaran pada tahun 1985.

Di ruangan sebelahnya, pengunjung bisa menikmati jejeran poster film-film dari Studio Ghibli dalam rentang waktu 30 tahun, replika dari ruang kerja Hayao Miyazaki, juga sketsa dan ilustrasi asli dari para animator Studio Ghibli. Saya membayangkan bagaimana dari ruang itu Miyazaki terus mengasah kecintaannya pada kesempurnaan.

Mungkin saja dari ruang itu dia mendapatkan ide untuk pergi ke Portugal hanya untuk melihat lukisan Hieronymus Bosch yang telah lama menghantuinya, atau mengirimkan perintah kepada Michiyo Yasuda, ahli pewarnaan film-filmnya, untuk pergi ke Alsace, Perancis bagian timur, untuk mencari warna spesifik bagi film terbarunya. Mungkin dari ruang yang sama pekerjaan membangun karakter Totoro, Ponyo, Kiki, atau Howl juga diselesaikan.

Castle in The Sky

Saat bergeser ke ruang paling besar, saya dibuat teramat takjub kepada instalasi yang berwujud replika tokoh maupun latar yang ada di film-film Studio Ghibli. Pertama-tama, saya dikejutkan oleh adanya dua benda yang berasal dari film Laputa: Castle in the Sky, yaitu Robot Laputa dan Airship. Airship Castle in The Sky sendiri biuat sangat besar dan memiliki kipas-kipas yang menderu ketika berputar.

Castle in The Sky dari film Laputa: Castle in the Sky

Castle in The Sky dari film Laputa: Castle in the Sky

Robot Laputa dari Film Laputa: Castle in The Sky

Robot Laputa dari Film Laputa: Castle in The Sky

Lalu, tepat di depan Airship berdirilah Yubaba’s Bath House yang didesain serupa dengan yang ada di film Spirited Away. Yubaba’s Bath House juga dilengkapi kelap kelip lampu dan mengeluarkan suara-suara orang yang berdialog secara berkala sehingga membuat para pengunjungnya merasa kalau ia berada dalam satu fragmen di Spirited Away. Kalau beruntung, seperti saya, kamu bisa bertemu dan berfoto dengan Kaonashi yang kadang mampir di Bath House ini .

Howl's Moving Castle

Howl’s Moving Castle

Lalu ada pula kastil bergerak dari film Howl’s Moving Castle yang jadi salah satu instalasi termegah di eksibisi ini dengan tinggi yang mencapai 8,5 meter. Belum lagi detail yang sangat presisi dari kastil tersebut yang membuat pihak Studio Ghibli sendiri kagum dan menyebut-nyebut bahwa ini adalah salah satu instalasi terbaik yang pernah ada.

Tak cukup sampai di situ, ada juga toko kue di film Kiki’s Delivery Service, salah satu film Studio Ghibli tersukses sepanjang masa. Kemudian ada hutan dari film Princess Mononoke yang ada di tengah-tengah ruangan ballroom. Ada pula pesawat Italia berwarna merah yang ada di film Porco Rosso lengkap dengan pasir putih dan bangku tempat bersantainya. Juga sebuah panel raksasa yang bergambar siluman ikan kesayangan kita semua, Ponyo, yang mengejar mobil Sosuke di film Ponyo on the Cliff by the Sea.

Kusakabe House

Kusakabe House

Danny, teman saya, di Instalasi Totoro, favorit kita semua

Danny, teman saya, di Instalasi Totoro, favorit kita semua

Namun, yang paling menyedot perhatian tentu tiga serangkai instalasi dari film My Neighbor Totoro: Kusakabe House tempat Mei dan Satsuki tinggal, Nekobus atau bus berbentuk kucing, serta tentu saja roh lucu kesayangan, Totoro. Titik ini adalah titik paling ramai, terutama Nekobus yang betul-betul bisa dinaiki dan Totoro berskala 1:1.

Geng Antek Ghibli berfoto di atas Nekobus

Geng Antek Ghibli berfoto di atas Nekobus

Hal yang membuat bangga adalah ketika saya mengetahui kalau seluruh karya instalasi yang dipamerkan adalah murni hasil kerja dan desain para seniman berbakat Indonesia. Mereka bekerja langsung di bawah pengawasan Studio Ghibli sejak menggambar konsep yang diilhami dari film-film animasi Ghibli dan kemudian diwujudkan dalam bentuk instalasi oleh vendor dalam negeri. Sehingga, rasa dekat dan hangat yang biasa ditawarkan Studio Ghibli pun makin terasa.

Saya melangkah ke luar eksibisi dengan wajah penuh senyum karena mimpi-mimpi Ghibli yang selama ini menghinggapi berhasil untuk tidak hanya saya wujudkan, tetapi saya pun bisa ikut bermain di dalamnya. The World of Ghibli berhasil membuat saya lebih dekat dengan salah satu monumen kesuksesan pengejawantahan film animasi yang, meski berbicara tentang perihal yang serius, tetapi tidak terkesan berkhotbah atau menggurui. Studio Ghibli memang ahli membuat hangat menjalar di dalam hati.

@meidiawancs instagram

Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.

Leave a Reply

Your email address will not be published.