Atap

      2 Comments on Atap

003295a 9Senyumnya selalu mengembang ketika kepala saya melongok dari pintu yang setengah terbuka. Ia seakan tertawa, tetapi tanpa gelak. Hanya gigi-gigi mungilnya yang bergeletuk menyambut saya, ayahnya, kembali ke Semarang setelah meninggalkannya pada hari-hari kerja. Di sela senyum, ia selalu memanggil jabatan dan nama depan saya: “Ayah Meidiawan”. Lalu, peluk-peluk pun berhamburan. Dia dan saya tidak pernah kikir dalam merayakan kebahagiaan pertemuan.

Dulu sekali, saya memanggilnya “shontongandhung”, kata yang saya comot serampangan dari nyanyian yang sering dilipurkan oleh ibu saya kepada saya dan adik-adik saya kala kami masih kecil. Hingga umur 2 tahun, saya tetap memanggilnya demikian.

Setelah dua tahun, ia mulai bisa bicara. Nama panggilannya, Altaf, mulai saya kenalkan. Ia, yang cadel, hanya bisa membunyikan “Atap” berulang-ulang. Tentu saja saya membiarkannya. Saya tak perlu memaksa agar ia bisa membunyikan namanya dengan benar. Seperti cinta, saat ia bisa mengeja namanya dengan benar pasti akan tiba kalau waktunya sudah tepat.

Lagipula, saya juga menyukai nama “Atap”. Di rumah, atap adalah peneduh saat panas dan pelindung saat dingin. Ia rela terbakar matahari atau digigilkan hujan. Ia menjadi pengayom yang sunyi. Tegak di sana meski tidak selalu kita sadari. Setelah atap rusak, barulah kerepotan luar biasa datang menghampiri.

Saya tentu tidak menyampaikan tetek bengek kepadanya tentang alasan saya jatuh cinta pada cara ia memanggil dirinya sendiri. Saya cuma ingin berbisik kala ia menyusun kata per kata yang patah. Suara-suara “Atap mau minum air putih”, “Atap mau koko krunch”, “Atap ikut naik motor”, akan saya jawab dalam hati: “Iya, Nak. Teruslah menjadi atap. Teruslah melindungi tanpa pekik dan nyanyi.”

si atap dalam pelukan

Setelah rengkuh dan peluk kami cukupkan, Atap kecil akan segera berlarian. Kadang, ia mengajak saya bermain bola. Kadang, saya mengajak ia bermain bahasa. Kadang, ia meminta saya menggambar kendaraan. Kadang, saya meminta ia menyapa kenyataan kalau dunia tempatnya berpijak tidak melulu indah. Tetapi tetaplah menjadi bagian dari keindahan yang tersisa, kata saya. Ia belum paham, dan mungkin tak akan pernah bisa paham. Keindahan dunia yang mutlak memang lebih dekat kepada angan-angan daripada kenyataan.

Bulan ini, Atap kecil berusia 30 bulan. Sudah dua setengah tahun ia rutin berlarian. Ia sudah lancar membedakan huruf serta angka. Ia juga cermat memilih mau digendong atau digandeng. Pertumbuhannya cepat sekali. Saya sampai tak sempat menilik perih saat meninggalkannya saban minggu.

Padahal, perih yang saya rasakan itu kurang lebih serupa dengan perih Chairil yang tergambar dalam Aku. Dalam naskah Aku, Sjumandjaja menyajikan sebuah fragmen saat Chairil mengangkat Evawani, anaknya, tinggi-tinggi. Evawani, yang masih berusia satu tahun, saling beradu tatap dengan Chairil. Mata Evawani tampak manis, sedangkan mata Chairil tampak berkaca-kaca. Chairil, yang kala itu sedang dihajar sakit parah, akhirnya harus berbesar hati berjauhan dengan Evawani yang diasuh terpisah oleh Hapsah.

Chairil, saat itu, mungkin saja sedang limbung. Ia jelas mencintai Evawani. Tapi segala kondisi menyebabkan ia tak bisa dekat berlama-lama. Ia sakit. Ia juga tidak punya pekerjaan tetap dan hidup bohemian. Masa-masa itu, mungkin masa yang berat baginya sehingga ia mampu mengeluarkan kata-katanya yang pejal: hidup hanya menunda kekalahan.

Satu kalimat dari Chairil itu betul-betul menyergap saya. Jika betul berjauhan dengan anak bisa menjadi sebegitu menderitanya, apakah yang bisa saya bekalkan padanya saat kami bersama?

Saya, Istri Saya, dan Atap

Bermacam-macam narasi kemudian bertengkar dalam pikiran saya. Apakah waktu kebersamaan kami dihabiskan dengan benar? Bagaimana jika kami, saya dan istri saya, salah menyematkan pelbagai identitas pada Atap? Bagaimana jika kami kurang tepat mendidiknya? Bagaimana jika, seperti yang Ea kisahkan dalam Le Tout Nouveu Testament, setelah hidup memang tidak ada apa-apa, dan kami secara tidak sadar telah menanamkan kebencian dan Atap lah yang memanennya sehingga ia tak menjadi bagian dari keindahan dunia?

Saya pun menimbang lagi kehidupan yang saya dan istri saya hadirkan dalam diri Atap terus menerus.

Meski naif, kami berusaha percaya kalau kami telah memberikan Atap bagian-bagian terbaik dari perilaku kami tiap kami berkumpul. Kami temani ia bercanda. Kami dengarkan ia. Kami belikan ia mainan. Kami juga ajak ia menuju ke tempat-tempat yang baru. Kami juga merapal doa-doa penuh dengan kebaikan atas dirinya.

Tetapi, pertanyaan lain datang. Apakah semua yang kami berikan adalah hal-hal yang sebenarnya ia inginkan?

Giliran sajak “Anakmu bukan Anakmu” dari Khalil Gibran tiba-tiba terhempas di benak saya. “Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri”, ungkap Gibran lirih. Jika benar anak adalah entitas sendiri, merdeka, bebas, dan memiliki kehendak yang hakiki, dan oleh karenanya mereka tidak dapat dipasangi implan-implan pikiran orang lain, setidaknya kami akan menghadiahkannya perkakas untuk memilah implan mana yang hendak ia kenakan.

Sebab, jika Jean Paul Sartre benar, dunia adalah sebuah belantara yang kaotik. Eksistensi manusia, yang retak itu, berjejal di hamparan dunia yang tidak bergaris batas. “Manusia dikutuk untuk bebas”, kata Sartre. Camus menambahkan bahwa manusia dilemparkan ke suatu dunia asing tanpa ada keterangan apa-apa. Sehingga, perkakas yang kami berikan juga menjadi modalnya untuk terus berperan sebagai atap, pelindung yang harus menghadapi jutaan implan-implan sosial yang disematkan kefanaan dunia.

Terlebih, implan sosial dapat merasuk tanpa permisi lalu mengendap hingga menjadi bagian dari pribadi manusia, tak terkecuali Atap. Dan kami berharap, perkakas yang kami berikan bisa ia gunakan untuk menyaring implan-implan sosial itu dan memadukannya dengan sifat-sifat dan pola pikir kami. Tetapi, bisakah?

Entah. Mungkin cuma itu yang akan keluar dari mulut saya. Saya hanya bisa menghambakan sepenuhnya kepada, mengutip Chairil juga, nasib waktu. Waktu yang konon lebih bengis dari belati tertajam.

Soalnya, toh waktu tak mampu saya perangi jua. Ia cuma akan menjadi takdir yang memberikan bukti usaha-usaha kami. Usaha masing-masing diri untuk mengalah demi memenangkan kebahagiaan akumulatif itu: anak-anak kami. Usaha-usaha membesarkan dan memberikan kasih sayang terbaik bagi Atap. Usaha-usaha untuk menjadikan nasib Atap lebih baik daripada kami. Usaha-usaha yang bermula dari sebuah senyum yang mengembang ketika kepala saya melongok dari balik pintu yang terbuka.

@meidiawancs instagram

Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.

2 thoughts on “Atap

Leave a Reply

Your email address will not be published.