Sebuah Resah dalam Ziarah

 

badai Tuan telah berlalu, salahkah ku menuntut mesra

tiap pagi menjelang, kau di sampingku

ku aman ada bersamamu

selamanya

sampai kita tua, sampai jadi debu

kau di liang yang satu

ku di sebelahmu

Kalau kau pernah mendengar lagu Sampai jadi Debu milik Banda Neira ini, niscaya bait-baitnya akan terus memutar dan memugar di kepala, setidaknya sampai belasan menit setelah film berakhir. Pertanyaan-pertanyaan pun akan terus mengetuki gigir kepala, mencari jawaban yang tak bisa, dan tak mungkin akan pernah bisa kau tawarkan.

Pertanyaan-pertanyaan itu ialah tentang hal yang paling sederhana dari cinta, sesuatu yang selalu kau (atau kita) anggap sebagai bunga kehidupan. Pertama, apa betul cinta adalah mengenai kebersamaan yang tak mengenal batas dunia? Kedua, apa betul cinta itu, memelintir Pram, sebenarnya sederhana saja sementara yang hebat-hebat adalah tafsirannya?

Dua pertanyaan inilah yang mencoba dijawab oleh Film Ziarah lewat cerita yang dijalani oleh para lakonnya: Mbah Sri (Ponco Sutiyem), seorang nenek berusia 90an tahun, dan cucunya, Prapto (Rukman Rosadi). Mereka tinggal dalam satu atap karena sama-sama sebatang kara. Suami Mbah Sri, Pawiro Sahid, pamit berjuang dalam Agresi Militer Belanda ke-2 dan tidak pernah kembali. Mbah Sri pun mempercayai kalau Pawiro telah gugur. Kedua orang tua Prapto juga telah tiada

Kehidupan Mbah Sri dan Prapto kemudian berjalan biasa saja sampai Mbah Sri bertemu tentara veteran yang mengatakan kalau makam yang selama ini rutin ia ziarahi bukanlah makam suaminya. Veteran itu mengaku tahu di mana Pawiro Sahid gugur dan dimakamkan.

Di titik ini, cerita segera berubah. Mbah Sri gusar karena satu pinta sederhana yang ingin ia penuhi di masa senjanya. Ia ingin bisa, seperti teman-temannya, dimakamkan di sebelah makam sang suami (sesandingan) saat meninggal kelak.

Lalu, dimulailah pencarian makam Pawiro Sahid. Mbah Sri pun pergi tanpa pamit. Ia menyusuri jejak-jejak kisah yang mengambang dari tuturan rekan-rekan Pawiro. Ia juga harus melewati pertemuan demi pertemuan hanya untuk mengungkap letak makam Pawiro Sahid.

Di sisi lain, Prapto menghadapi kebingungan ganda. Perginya sang nenek sudah membuatnya kalut, ditambah ia tengah berada pada kondisi sedang mempersiapkan pernikahan dengan calon istrinya (Vera Prifatamasari). Prapto pun makin kacau. Keputusannya untuk akhirnya mencari Mbah Sri pun dilakukan sambil mengantongi pikiran tentang rencana pernikahannya yang terlunta-lunta.

Ziarah lalu menyoroti perjalanan Mbah Sri mencari makam Pawiro dan perjalanan Prapto mencari jejak-jejak Mbah Sri. Namun, walaupun kisah utama yang diangkat film ini adalah jejak-jejak Pawiro yang ditelusuri oleh Mbah Sri, BW Purba Negara sebagai sutradara tidak melupakan kisah-kisah lain yang berpusar di sekeliling kisah utama itu.

Kisah lain yang selalu mengiringi kisah utama adalah cerita tentang Prapto. Purba Negara dengan ciamik menggoreskan kontradiksi tipis antara kisah cinta Mbah Sri dan Prapto. Saat Mbah Sri dapat dikatakan sudah rampung dengan kisah percintaannya, Prapto justru baru akan memulainya. Saat Mbah Sri sudah berjuang menuju cita-cita penghabisan dari kisah cintanya, Prapto masih acap terjebak pada friksi romantika masa muda. Kesamaannya adalah keduanya sama-sama berjibaku dengan keresahan.

Purba Negara juga memunculkan sedikit kisah dari tempat-tempat yang disinggahi Mbah Sri dan Prapto. Dialog yang muncul dari pencarian Mbah Sri memang membuat kita sedikit tahu tentang keadaan penduduk serta relasi sosiokultural dan sejarah daerah setempat. Kita akan melahapnya tanpa sadar kalau dialog-dialog itu sebenarnya adalah sebuah kritik yang dikemas dengan manis.

Tetapi, kisah yang paling menentukan justru adalah kisah Pawiro sendiri. Pawiro memang tidak muncul sama sekali. Tetapi, sesungguhnya semua dialog, adegan, hingga penyusuran Mbah Sri maupun Prapto merekonstruksi kisah Pawiro. Pawiro “hidup” dari pahatan adegan-adegan itu. Pawiro-lah yang membuat semua benang-benang cerita bisa terjalin dan membentuk sebuah kain cerita yang utuh.

Kain cerita itulah yang kemudian bisa kita maknai. Apakah akhir film ini adalah akhir kisah yang indah, atau malah kegetiran yang muram nun payah?

Tidak ada cinta yang betul-betul sederhana. Mungkin itu yang ingin diceritakan Ziarah. Cinta Mbah Sri kepada Pawiro mungkin terkesan sederhana. Sesederhana keinginan untuk selalu berdampingan baik di atas maupun di dalam bumi.

Tetapi, apakah cinta Pawiro ke Mbah Sri juga sederhana? Apakah proses pencarian Mbah Sri, yang menyusuri Bantul hingga Wonosari itu, sederhana? Apakah cinta Pawiro kepada negara juga sederhana? Apakah cinta yang sedang dibangun Prapto dan calon istrinya juga sederhana?

Kita akan susah menjawabnya. Ziarah membuka ruang penafsiran yang sangat banyak setelah sesak menghinggapi dada saat mengetahui akhir dari film ini.

Film Ziarah dituturkan dengan lambat. Namun lewat cara itu, ia mampu mengiris-iris hati penontonnya saat melihat langkah demi langkah Mbah Sri berjuang menemukan pembaringan terakhir suaminya tanpa mengeluh -yang juga akan menjadi tempat pembaringannya kelak-. Sesuatu yang pada akhirnya juga mengajarkan kita bahwa pencarian tidak melulu berakhir dengan menemukan apa yang dicari.

Aplaus pun layak diberikan pada BW Purba Negara yang mampu mengarahkan Ponco Sutiyem, nenek berusia 95 tahun, untuk memerankan sosok Mbah Sri dengan sangat baik. Ponco sungguh bisa menggambarkan Mbah Sri yang kuyu sekaligus resah memikirkan satu keinginan yang ia peluk erat: menemukan makam suaminya. Tak heran jika Ponco Sutiyem juga masuk nominasi Nominasi Aktris Terbaik dalam ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017

Keresahan yang diceritakan film ini pun makin kuat lewat bungkusan dialog yang seluruhnya dituturkan dalam bahasa Jawa (80% malah bahasa Jawa Krama). Beberapa dialog, yang memang sudah indah, terasa kian magis ketika dituturkan dalam bahasa Jawa Krama. Ditambah, ada nuansa mistis yang dimasukkan oleh Purba Negara. Rasa gembira, haru, dan pedih yang ditampilkan pun makin paripurna.

Film Ziarah, yang hanya berdurasi 87 menit, adalah film yang berkualitas. Ia berhasil menggondol penghargaan Film Terbaik Pilihan Juri dan Skenario Terbaik di ASEAN International Film Festival and Awards (AIFFA) 2017, Film Terbaik dalam Salamindanaw Film Festival 2016 di Filipina, juga Skenario Terbaik versi Majalah Tempo 2016. Kekurangan film ini mungkin hanya satu, ia turun dari layar bioskop dalam jangka waktu yang tidak panjang.

Sangkan paraning dumadi; sedaya saking Gusti, sedaya gesang ing bumi lebur dening Pangastuti.

Judul: Ziarah
Tahun Produksi: 2016
Durasi: 87 menit
Sutradara: BW Purba Negara
Pemeran: Ponco Sutiyem, Rukman Rosadi, Vera Prifatamasari
Penulis: BW Purba Negara
Produksi: Purbanegara Films, Limaenam Films, Lotus Cinema, Hide Project Films, Super 8mm Studio Goodwork
Negara: Indonesia

 

@meidiawancs instagram

Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.

6 thoughts on “Sebuah Resah dalam Ziarah

  1. Delfi

    Ulasan yang keren banget! Pas baca review ini, terkenang kembali perasaan saat nonton filmnya. Kerasa lagi hati ini teriris-iris ingat endingnya.

    Reply
    1. Meidiawan Cesarian Syah Post author

      Siap kakak delfi. Aseli kalo ini dibikin dvdnya terus dijualin, bakalan saya beli.

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.