resensi

Mencintai adalah Sebuah Pekerjaan

Bagikan

gambar dari snapdeal.com
gambar dari snapdeal.com

[soliloquy id=”0″]

resensi buku The Art of Loving – Erich Fromm

Love is a verb. Frase ini menjadi sebuah dekonstruksi yang tersaji di awal saya membaca buku ini. Cinta, bukan sebuah benda. Cinta, bukan sebuah sifat. Ia adalah sebuah pekerjaan. Sebuah pekerjaan berarti membutuhkan subjek dan objek. Subjek melakukan sesuatu sehingga objek meniadakan gemingnya. Ia bergerak, atau ia tergerak. Artinya, permasalahan mengenai cinta dapat menarik siapa saja ke dalam pusarannya. Jadi, jika Anda berpikir bahwa cinta adalah sebuah benda atau keadaan, buku ini akan meruntuhkan bangunan pemikiran anda menjadi puing belaka.

The Art of Loving adalah buku karya Erich Fromm, seorang yang rajin menggerimiskan kesinisannya terhadap zaman. Fromm dikenal sebagai seorang filsuf, psikologis dan psikoanalis yang bergulat dalam roda kemanusiaan sebagai bidangnya. Buku ini didengungkan sebagai karya terbaik dari Fromm, walau Saya lebih memandangnya sebagai karya Fromm yang paling populer. Fromm, lahir dan besar di Jerman. Ia menjadi saksi dari kesombongan manusia yang memegang senjata. Perang Dunia I menjadi pergolakan yang sangat mempengaruhi kepribadian para warga negara Jerman saat itu.

Potret yang dibingkai oleh Fromm adalah cinta dalam arti luas. Cinta yang ternyata adalah sebuah semesta di mana keseluruhan elemennya saling menguatkan sekaligus saling meniadakan. Fromm membagi cinta berdasarkan objeknya: cinta sesama, cinta diri, cinta erotis, cinta ibu, dan cinta kepada Tuhan. Setiap elemen berbeda dalam objek, tapi Fromm menarik garis di mana objek itu masih berada dalam lingkaran yang sama.

Cinta, yang kita kenal sekarang dipahat dari budaya kontemporer yang sudah berjalan sejak awal abad 20: budaya kapitalisme. Kapitalisme berarti pasar yang terdiri dari penjual dan pembeli. Cinta, dalam budaya kapitalisme, tak ubahnya komoditas yang diperjualbelikan dalam tatanan pasar. Ia taat pada pemberlakuan hukum permintaan dan penawaran. Tiap orang berlomba menawarkan “paket kepribadian” yang dimilikinya untuk mendapatkan “paket kepribadian” yang dimiliki orang lain. Masyarakat secara bersama-sama menjadi organisme egosentris yang teralienasi serta berorientasi pada konsumsi. Fromm menulis; “manusia modern teralienasi dari dirinya, sesama, dan alam. Ia telah berubah menjadi komoditas, menghayati kekuatan hidupnya sebagai investasi yang harus memberikan keutungan maksimal yang diperoleh dari kondisi pasar yang ada.”

Baca Juga:   Untuk Kamu yang Begitu Dekat Namun Seakan Begitu Jauh

Dengan pasar sebagai titik tolak cinta. karakter masyarakat pun berubah. Ia bergeser menjadi, mengutip Fromm lagi, pengisap yang selalu penuh harapan dan selalu kecewa. Oleh karena itu, selera Pasar “Cinta” itu pun berubah-ubah. Jika pada awal abad ke-20, gadis yang menarik adalah mereka yang suka minum-minum, merokok, dan dansa-dansi, maka pada waktu sekarang pasar lebih memihak gadis yang malu-malu kucing dan sayang pada keluarga. Demikian juga dengan lelaki. Kini, pasar lebih memuja lelaki yang suka bergaul dan toleran, menggeser fenomena lelaki yang dipuja karena ambisius dan agresivitasnya.

Begitu volatilitasnya pasar “cinta” atau kepribadian ini, maka peserta yang terjun dan berinteraksi di dalam kumparan ini digiring secara tidak sadar ke dalam kekecewaan. Penilaian terhadap cinta menjadi sesuatu yang dipersyaratkan, dan manusia, pada satu titik waktu, akan tidak merasa puas atas pertukaran paket kepribadian yang telah dilakukan.

Lalu kenapa manusia harus bisa memeluk cinta dalam sayap-sayap kehidupannya? Fromm memaknakan cinta sebagai jawaban atas eksistensi manusia. Manusia sadar ketika lahir, bahwa dirinya hadir dalam sebuah entitas yang terpisah, berumur pendek, tidak memiliki kehendak atas kematiannya, serta keragu-raguan atas semua probabilitas yang menghampar di hadapannya. Keterpisahan yang dituntun oleh ketidakpastian serta keragu-raguan, akan menyeret manusia dalam padang kegelisahan yang mendalam. Cinta, menurut Fromm, terlukis sebagai jalan keluar bagi manusia untuk mengatasi keterpisahannya. Cinta adalah media agar manusia tidak terjebak ke dalam kelenyapan dirinya dari dunia, akibat dari kegagalan untuk mengatasi isolasi dirinya.

Interaksi antar manusia kemudian berkembang dengan adanya konformitas, yaitu penyesuaian sikap dan perilaku. Penyatuan dengan orang lain demi menghilangkan kemungkinan kesendiriannya membuat manusia melakukan tawar menawar untuk mengikuti kesepahaman umum, kebiasaan, pola-pola yang dibuat kelompok semata-mata agar mereka tidak merasa tersisih dan sendirian, dan kemudian lenyap dari lingkaran sosialnya.

Baca Juga:   The White Helmets: Ksatria Helm Putih yang Terluka

Fromm dalam buku ini mengetengahkan sikap bahwa ia memandang konformitas dalam hal penyatuan atas lawan dari keterasingan tidak melulu diidentifikasikan sebagai cinta. Fromm menulis bahwa apabila dalam suatu penyatuan terdapat submission atau domination, maka hal tersebut bukanlah cinta. Pribadi yang tunduk (submission) keluar dari perasaan isolasinya dengan menjadikan dirinya sebagai bagian dari pribadi lain yang menjadi daya hidupnya. Bagi pribadi jenis ini, dirinya bukan siapa-siapa, minor, cenderung masokis. Lawannya adalah pribadi yang memiliki sifat dominasi. Pribadi jenis ini keluar dari keterpenjaraaannya dengan membuat pribadi lain sebagai bagian dirinya. Ia adalah sosok yang sadistis, egosentris, dan narsis.

Cinta, adalah ketika keduanya melakukan peleburan tanpa integritas. Dalam soal ini, Fromm sendiri berujar “Cinta membuat dirinya mengatasi perasaan isolasi dan keterpisahan, namun tetap memungkinkan dirinya menjadi dirinya sendiri. Dalam cinta terdapat paradoks: dua insan menjadi satu, namun tetap dua”

Dalam persoalan eksistensial manusia, hal ini menjadi penting untuk dipahami. Dengan adanya peleburan tanpa integritas, manusia bisa mempertahankan sifat-sifatnya dan menolak mekanisme pasar yang terlalu cepat. Fromm menyentil untuk tidak terlibat dalam cinta yang semu terkait dengan mekanisme pasar. Cinta yang semu adalah keadaan di mana ia menyerahkan dirinya kepada sebuah mekanisme proyektif, yang menganggap sebuah fantasi tertentu adalah titik ideal di mana hal tersebut tidak dialami di sini dan sekarang. Akhirnya, hubungan cinta hanya serupa kegiatan saling proyeksi antara kedua belah pihak yang tidak berkesudahan.

Cinta dalam perspektif buku ini adalah mengenai sebuah pemberian, bukan penerimaan. The Art of Loving menjelaskan bahwa cinta yang hakiki adalah sebuah pemberian diri. Ia tidak merelakan hidupnya sebagai korban yang akhirnya tunduk pada submisif tertentu. Hal yang direlakan adalah apa yang hidup di dalam dirinya; kebahagiaan, minat, pemahaman, pengetahuan, kejenakaan, dan kesedihannya pada orang lain. Ia memperkaya orang lain, sekaligus memperkaya diri sendiri. Di sisi ini, manusia merestorasi kata-kata yang pernah diutarakan Chris McCandles: “Happiness only real when shared”.

Baca Juga:   Rainbirds: Misteri yang Menanggalkan Pengetahuan

The Art of Loving memberikan sebuah definisi cinta ala Timur. Cinta adalah perhatian aktif pada kehidupan dari apa yang kita cintai. Oleh karena itu, Fromm memegang teguh kenyataan bahwa daripada manusia sibuk melakukan proyeksi keinginannya untuk dicintai (yang selalu gagal), manusia lebih baik melakukan pekerjaan mencintai. Manusia harus bisa menghindarkan diri untuk menjadi komoditas dengan menjadikan atribut dalam dirinya sebagai sebuah nilai takar untuk meletakkan posisi diri di pasar kepribadian. Berlakulah, karena mencintai adalah sebuah pekerjaan. Kebahagiaan atas cinta lahir apabila pemberian yang dilakukan ditujukan untuk melestarikan kehidupan. Cinta bukan kebutaan pada realitas, namun menjadikan realitas sebagai daya untuk, mengutip Eckhart, mencintai semua dengan sama, termasuk diri sendiri. Dan dengan cara itu manusia dapat mencintai mereka sebagai satu pribadi dan pribadi itu adalah Tuhan dan Manusia.


Bagikan

9 Comments

  • qona asidakiah

    Haaai, Cesaaa salam kenal ya.

    Baru pertama kali mampir, pembendaharaan kata lo, cakep.
    Emang ketauan ya ciri2 penikmat buku.

    Kesimpulannya sih gue jadi bisa memandang sisi lain dari yang arti cinta. Emang sensitif ya kalau udah ngomongin cinta gak pake laura. Ckckc

    Salam kenal ya cesssss !

    • Meidiawan Cesarian Syah

      Hai juga Qona, apa kabar salam kenal… 🙂
      hahahha jangan ngomongin cinta laura dong, nanti saya inget lagi dia yang pernah memberikan rasa #ahalah

      cinta sih sebenarnya biasa saja, yang megah itu tafsiran-tafsirannya…jadi, apa tafsiranmu soal cinta?

      • qona asidakiah

        Jahaha
        Kan jadi mampir lagi, hehehe

        Oh jadi rasa-yang-pernah-ada itu untuk …. ea

        Beberapa waktu lalu, gue iseng tanya ke senior di tmpt kerja gue. Beliau itu kelahiran generasi lama. Trs beliau juga bingung apa itu perihal cinta. Iseng banget ya gue, ces nanya gituan ke senior lagi.

        Menurut gue, cinta itu gak bisa didefinisikan secara gamblang. Abstrak. Cinta juga punya ilmu dasar. Macem kayak ilmu Matematika dasar. Intinya ya cinta itu matematika. Kadang perlu pake logika. Beragam cara yang bisa diaplikasiin buat dpt hasil. Gitu kali ya. Kyknya gak deh. haha

        Lah, jadi panjang ya cess.

    • Meidiawan Cesarian Syah

      hihi pengalaman membaca aja sih ini kak. Toh setiap kita pasti pernah merasakannya~

Leave a Reply to Anonymous Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *