Berteman Lembur

      2 Comments on Berteman Lembur

suasana bagian keuangan Kantor Pusat DJP

“Jeglek”, terdengar suara pintu ruangan Kepala SubBagian Penyusunan Anggaran ditutup.

Anggoro bangkit, memperhatikan sekitar. Sudah tidak ada orang lagi.

“Oh…ya sudah”, Anggoro meneruskan bekerja sementara waktu telah menunjukkan pukul 23.00 lebih. Tapi apa lacur, ada tenggat waktu pekerjaan yang tidak bisa ditenggang.

“Jeglek”, terdengar suara pintu yang sama tertutup lagi. Padahal tidak ada yang membukanya. Pintu itu tidak bisa terbuka sendiri. Gagangnya disertai besi berani yang tidak bisa lepas jika tidak diputar oleh manusia.

“Jeglek”, kali ketiga suara terdengar dari pintu yang sama. Suasana benar-benar lengang.  Bahkan, Anggoro bisa mendengarkan deru napasnya sendiri. Ia kembali mengerling untuk memastikan. Dan memang betul, tidak ada orang lain. Tanpa pikir panjang, Anggoro mengemasi barang-barangnya dan segera pulang.

anggoro bercerita pada saya tentang kisah lemburnya

anggoro bercerita pada saya tentang kisah lemburnya

Sebenarnya, seperti pegawai lain, Anggoro juga tidak ingin berada di kantor hingga larut malam. Ia ingin memperbaiki kehidupan percintaannya agar tidak seperti udara di luar angkasa: hampa. Mumpung ada pacar. Ada yang bisa diapeli dan dirawat. Tapi, toh nasib tidak seperti suporter yang bisa memihak. Ia diamanati pekerjaan yang mengharuskannya sering berjibaku hingga larut malam, dan lembur menjadi konsekuensi logis yang tak dapat ditolak.

Anggoro bekerja di SubBagian Penyusunan Anggaran, Bagian Keuangan, Sekretariat Direktur Jenderal Pajak. Meskipun bernama “penyusunan”, tugas yang dikerjakan olehnya juga meliputi pelaksanaan anggaran.

Penyusunan Anggaran sendiri dimulai dari meriviu, mengevaluasi, menyunting hingga mengecek data dukung masing-masing satuan kerja. Dengan beban sejumlah 30-40 satuan kerja per orang, menyelesaikan tumpukan pekerjaan dalam hitungan beberapa hari kerja hampir merupakan sebuah kemustahilan. Itu belum ditambah dengan pekerjaan yang bisa datang sewaktu-waktu ketika penyusunan anggaran sedang berlangsung. Permintaan data dari pihak lain sering muncul dengan tenggat waktu yang singkat. Surat permintaan data bisa saja turun hari ini dan tenggat pengumpulan adalah keesokan harinya.

Sedangkan kegiatan pelaksanaan anggaran tahun berjalan seiring dengan periode penyusunan anggaran tahun depan, termasuk pula pengerjaan revisi anggaran yang juga selalu berkejaran dengan tenggat waktu. Alhasil,  kuantitas pekerjaan yang ditangani oleh Angga dan rekan-rekannya di Bagian Keuangan sangat banyak. Lembur pun menjadi pilihan agar pekerjaan tidak bertumpuk-tumpuk dan mengganggu kinerja organisasi.

Alasan serupa dikemukakan oleh Ilmi, pegawai SubBagian Akuntansi dan Pelaporan, Bagian Keuangan, Sekretariat Direktorat Jenderal Pajak, mengenai kebiasaannya lembur. Di SubBag Akuntasi dan Pelaporan, tugas utama yang diemban adalah rekonsiliasi, baik dengan Ditjen Perbendaharaan Negara maupun dengan Satuan Kerja internal Ditjen Pajak. Rincian laporan keuangan yang seabrek banyaknya, meliputi aset, kewajiban, dan ekuitas, serta beban rekonsiliasi tiap pegawai yang mencapai 30-40 satuan kerja membuat jam kerja “8 to 5” hanya berlaku di atas kertas. Nyatanya, pulang larut menjadi sebuah keniscayaan. Seperti Angga, pegawai di Subbag Akuntansi dan Pelaporan juga sering mendapati durian runtuh berupa surat permintaan data yang tenggat waktunya sangat mepet, sehingga menambah kemungkinan tuntutan untuk pulang di atas jam 5 sore.

lembur telah mengambil bagian besar dalam kehidupan ilmi

lembur telah mengambil bagian besar dalam kehidupan ilmi

“Dulu sebelum jadi sekretaris, saya pulang paling cepat jam 11 malam. Sekarang lebih malam lagi karena harus menunggu Kepala Bagian pulang duluan. Itu belum mengerjakan tugas tambahan yang saya emban yaitu Audit BPK”, ujar Ilmi. Ia mengaku terbiasa pulang ditemani cahaya rembulan.

“Kalau di SubBag saya malah jam 5 sore itu belum ada nuansa pulang kantor. Teman-teman pun terbiasa pulang paling cepat setelah Maghrib. Jadi, kami hampir tidak pernah menjumpai senja. Saya sendiri selesai lembur paling cepat ya jam 7 atau jam 8 malam dan paling lama ya hingga jam 3 dini hari”, Anggoro berseloroh akan nasibnya.

“Dan kalau begitu ya saya terpaksa nginap, trus paginya baru izin Kepala Subbag untuk pulang sejenak buat ganti pakaian”, tambah Anggoro.

Rutinitas seperti itu tentu mengibakan. Selain merasakan jenuh, Ilmi dan Anggoro kadang merasa iri pada kemewahan pulang tepat waktu yang dirasakan pegawai lain.

“Pernah saya kembali dari rapat di Lapangan Banteng, melihat rekan-rekan lain yang sudah bersiap pulang, menenteng tas, lalu berhamburan keluar lift sementara saya masih harus bekerja hingga larut. Rasanya pekerjaan saya itu extraordinary banget jadinya,” kata Anggoro.

Keluarbiasaan pekerjaan Ilmi dan Anggoro yang karib dengan lembur, mau tak mau, juga turut mengurangi intensitas mereka dalam berelasi. Ilmi bercerita tentang reduksi frekuensi telepon yang biasa ia lakukan dengan ibunya, ketiadaan waktu luang menggebet calon pasangan, hingga susah bersosialisasi dengan sahabat-sahabatnya.

“Lembur ini ya, kalau ke hubungan dengan temen-temen jelas ngaruh banget, kalo hubungan dengan percintaan ya ngaruh gila. Saya pernah putus karena waktu yang habis untuk bekerja”, sahut Ilmi sambil tertawa nanar.

Setali tiga uang dengan Anggoro. Lembur sempat membuat ia susah bercengkrama dengan pacar. Jangankan untuk pacaran, bertemu dengan teman-teman di hari kerja sangat mustahil. Kerinduan dengan teman-teman dan pacar hanya bisa dituntaskan di akhir minggu. Tentu waktu yang tersisa pun sangat sedikit, apalagi harus dialokasikan ke beberapa pihak yang “membutuhkan”.

Tapi, toh, Anggoro dan Ilmi menyebutkan bahwa lembur itu sudah seperti kapalan: tidak terasa. Suka duka yang hadir membuat mereka merasa lembur adalah teman yang tidak perlu dimusuhi. Lembur sudah merasuk dan membuat warna tersendiri dalam hidup mereka. Walaupun mereka juga kadang merasa bahwa warna lembur di hidupnya sudah terlalu banyak sehingga mereka, seperti halnya pegawai lainnya, butuh jeda, perpindahan, dan nuansa baru agar tidak perlu selamanya berteman dengan lembur, apalagi sampai berkeluarga.

*ditulis untuk e-Magz Ditjen Pajak edisi Oktober 2016

@meidiawancs instagram

Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.

2 thoughts on “Berteman Lembur

Leave a Reply

Your email address will not be published.