Sakramen

      1 Comment on Sakramen

P1040262 copy

untuk istriku yang berulang tahun ke-25

Ketika Karen Armstrong mengisahkan sebuah fragmen pernikahan Rasulullah SAW dengan Ummu Salamah dalam buku “Muhammad: The Prophet of Our Time“, mungkin beberapa dari kita akan mengernyitkan dahi. Dalam fragmen itu, dikisahkan Ummu Salamah yang mula-mula enggan menikah dengan Rasulullah karena beliau sangat mencintai suaminya yang baru saja mati syahid. Namun, ketika Muhammad tersenyum dengan “senyuman yang sangat memikat, yang membuat hampir semua orang luluh”, Ummu Salamah menerima lamaran Rasulullah SAW.

Terlibatnya sisi emosional melalui kalimat-kalimat percintaan dalam buku ini, menurut Jalaludin Rakhmat, ditengarai timbul akibat latar belakang pendidikan Armstrong yaitu kesusasteraan Inggris. Armstrong secara sadar menempatkan fragmen kehidupan Rasulullah dalam narasi yang sastrawi, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh penulis-penulis tarikh yang Muslim.

Pendapat Armstrong mengenai pengisahannya terhadap Rasulullah mungkin saja tidak cocok bagi sebagian orang. Beberapa bahkan menganggap penafsiran tersebut sebagai cerita yang melecehkan dengan menempatkan nuansa percintaan Victorian terhadap kehidupan maksum Rasulullah. Namun, upaya menafsir sebuah kisah memang tidak monolitik. Perspektif orang terhadap sebuah kisah bisa berbeda-beda.

Upaya pembacaan atas kisah ini mendorong diri saya untuk mendekonstruksi ulang apa yang telah saya lakukan dalam kehidupan pernikahan saya. Kisah pernikahan ini saya coba tafsir ulang. Pernik-perniknya saya dedah secara lebih luas. Rasa-rasanya, Saya masih terlalu memaksakan ke”bulat”an diskresi yang saya ambil atas lingkaran pernikahan ini.

Pernikahan bukanlah milik saya seorang. Ada peran pasangan dan juga anak yang kesemuanya memiliki bagian. Kehidupan pernikahan adalah resultan upaya dari masing-masing anggotanya untuk mencapai ekuilibrium kebahagiaan. Harusnya, ada upaya juga dari saya untuk mengurangi sikap egosentris demi mengimbangi kepentingan istri dan anak-anak saya.

Putri, istri saya, adalah perempuan luar biasa yang mempu membuat saya mendekonstruksi tafsir pernikahan yang monolit (setidaknya monolit menurut tafsiran saya). Ketika saya merasa bahwa pendapat saya adalah yang terbaik, Ia melalui argumennya mampu membuka tabir sudut pandang yang tidak terjamah oleh pikiran saya. Kecerewetannya dan keribetannya adalah sebuah anugerah, sekaligus tantangan bagi kenyamanan berpikir saya. Pergumulan kutub-kutub pemikiran nun berlawanan ini membuat saya berpikir lebih luas, merenung lebih jauh.

Sekilas, Putri tampak seperti perempuan biasa. Lebih sempit lagi, dia terlihat seperti remaja kebanyakan yang terseret riuhnya aplikasi instagram dan membuncahnya keinginan untuk di-endorse. Namun, lebih dari itu, Dia adalah ibu terbaik bagi anak-anak saya dan juga perempuan cerdas yang kadangkala pemikirannya nyerempet pemikiran Habermas atau Arrendt, walaupun ia tidak sadar (malah mungkin dia nggak tahu kedua nama tersebut).

Soal adu pemikiran, Putri adalah teman diskusi terbaik saya sepanjang masa. Ketika dia selo, diskursus apapun akan kami bahas melalui berbagai macam pendekatan. Dia, misalnya, dengan luwes meladeni saya ketika wacana tata ruang kota saya sitir dalam beberapa kali keluhan mengenai masifnya pembangunan fisik di Semarang. Dia urun berpendapat ihwal bagaimana seharusnya kota itu dibangun untuk memenuhi kebutuhan penduduknya, bukan atas nama uang semata. Dia juga secara antusias menawarkan solusi-solusi manajemen kantor pemerintahan agar lebih mampu memuaskan masyarakat. Dengannya, pillow talk ataupun obrolan saat perjalanan bisa berubah menjadi ladang adu argumen yang sengit.

Maka ketika jarak diantara kami sedang tidak mampu saya rengkuh, fragmen-fragmen tadi mewujud peraman kerinduan saya yang sangat akan hadirnya Putri. Kebersamaan dengannya selalu membuat saya berada di ambang sadar dari kegilaan dunia. Pertarungan dan perseteruan membuat kami belajar toleransi sekaligus demokrasi. Kami pun merasa bahwa kontradiksi yang ada diantara kami adalah kekayaan, bukan sebaliknya.

Saya sering merindukan saat-saat memeluknya sambil bercerita tentang buku-buku yang saya baca, pengalaman-pengalaman saya di kantor, atau manusia-manusia yang saya temui. Kadang, dia membalasnya dengan cerita-cerita yang tak kalah menariknya. Meskipun kadang juga dia menyindir dan menggeser fokus cerita ke lelucon yang entah, sama absurdnya dengan pekerjaannya.

Saya juga merindukan tingkahnya meminta difoto puluhan kali. “Jatah upload”, katanya. Sebagai aktivis instagram, Ia ingin sustainabilitas pengunggahan fotonya tetap terjaga. Walhasil, saya yang tergopoh-gopoh mengabdi menjadi juru fotonya seumur hidup. Tergopoh-gopoh yang saya lakukan jua karena itu adalah sebuah kesenangan. Berbekal piranti kamera yang cukup bagus, momentum “pemotretan” berubah menjadi adegan penuh tawa. Di tengah-tengah momentum tersebut, saya merasakan sebuah kedamaian bersamanya. Napas yang bahagia dari geletak senyum-senyumnya menjadi sesuatu yang selalu saya syukuri.

Putri adalah tipikal perempuan rewel yang selalu mengingatkan saya padah hal-hal yang sering saya lupakan. Dari pulsa listrik yang hampir habis hingga menanam rumput untuk taman rumah. Keribetan dan kecerewetannya membuat ego saya luluh perlahan-lahan. Perhatian dan kasih sayangnya pula yang membuat saya mengendurkan ego yang terlalu kencang di leher. Saya harus mengutamakan keluarga kecil ini.

Perilaku-perilaku sederhananya membuat kisah hidup saya menjadi berwarna alih-alih potret buram semata. Kesedihan dan kegembiraan bak warna-warna yang melingkupi dinamika kehidupan saya. Saya teramat bersyukur berada di sampingnya. Dalam kehidupan nun absurd ini, sangat terasa bahwa absurditas kami saling melengkapi.

Kisah saya, pada akhirnya, tidak menjadi absolut milik saya seorang. Ketika saya mengutarakan soal “saya”, ada pecahan kisah dirinya yang terakumulasi dalam “saya”. Pun ketika dia memaparkan soal dirinya. Ada patahan diri saya yang terangkut dalam lafalnya. Kini, patahan itu bertambah dengan hadirnya unggun timbun doa-doa kami yang maujud dalam diri Malaka Altaf Nirwikara. Tetak syukur yang saya haturkan mungkin sebesar-besarnya ada pada mudahnya sinkronisasi keinginan-keinginan kami.

Memandang sebuah kisah pernikahan adalah ikhtiar saya untuk melakukan perbaikan dari kesalahan terdahulu. Tafsir atas pernikahan ini akan terus saya lakukan dari pelbagai sudut pandang. Seperti halnya Armstrong, mungkin tidak semua orang mampu mengapresiasi ikhtiar ini. Tapi bagi Saya, refleksi seperti ini membuat saya lebih mengerti bagaimana menyelenggarakan demokrasi dari lingkup yang terkecil.

Demokrasi itu, bagi saya, adalah sebuah cara untuk mencapai ekuilibrium kebahagiaan yang menjadi tujuan utama pernikahan kami. Bersama Putri, saya merujuk akan titik ekuilibrium bukan sebagai sesuatu yang statis, melainkan suatu dinamika yang terus-menerus mengambil posisi. Maka, ketika kami masing-masing berada dalam satu titik kebahagiaan, satu-satunya hal yang kami lakukan adalah berupaya untuk menggapai kebahagiaan berikutnya. Begitu selalu. Terus menerus.

Selamat Ulang Tahun Istriku sayang, izinkan “fragmen” dari Chairil menutup gumaman ini

“kau cintaku
melenggang diselubungi kabut dan caya, benda yang tidak menyala”

@meidiawancs instagram

Something is wrong. Response takes too long or there is JS error. Press Ctrl+Shift+J or Cmd+Shift+J on a Mac.

One thought on “Sakramen

  1. Widyaputri.ard

    Sewaktu aku sampai di pertengahan tulisanmu ini aku sedih bi..

    Soalnya aku udah separuh jalan membaca tulisan yang luar biasa ini, yang artinya tinggal separuh lagi (atau kurang) aku selesai bacanya.

    Yuk ah sering nulis lagi bi. Jangan biarkan rutinitas pekerjaan kantor dan carut marut kemacetan Djakarta bikin produktivitas menulis jd turun.

    Aku sih ga pandai berkata2, but all I wanna say is ‘Thank You’

    Sa~ maw ngulang baca dr awal lagi dan lagi dan lagi

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.